Pada 23 Agustus 2026, Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) TNI AD di Martapura, Kalimantan Selatan, menjadi arena uji coba skema serangan frontal tingkat batalyon. Latihan taktis ini dirancang untuk menyempurnakan doktrin pertahanan aktif TNI AD dalam menghadapi ancaman asimetris, dengan fokus pada presisi waktu, koordinasi lintas satuan, dan eksekusi formasi tempur yang terukur. Setiap gelombang serangan diukur menggunakan instrumentasi elektronik untuk menilai kecepatan dan akurasi pergerakan — sebuah pendekatan modern yang memungkinkan evaluasi data real-time.
Skema Serangan Tiga Gelombang: Rincian Taktis
Latihan serangan batalyon ini menggunakan metode tiga gelombang yang saling bergantung. Berikut rincian tahapan yang diterapkan:
- Gelombang Pertama (Pembukaan): Tembakan artileri pembuka selama 10 menit. Sasaran utama adalah titik-titik pertahanan musuh yang telah diidentifikasi. Tujuannya melumpuhkan sistem pertahanan lawan sekaligus memberikan efek kejut psikologis. Koordinasi dengan peleton mortir menjadi krusial untuk memastikan tembakan tepat sasaran.
- Gelombang Kedua (Infiltrasi): Pasukan infantri melaksanakan infiltrasi menggunakan formasi baji (wedge). Jarak antar personel diatur 5 meter untuk meminimalkan risiko tembakan musuh dan mempertahankan momentum serangan. Formasi baji dipilih karena memungkinkan konsentrasi daya tembak di depan, sekaligus fleksibilitas untuk berubah menjadi formasi bertahan jika diperlukan.
- Gelombang Ketiga (Pembersihan): Fase ini melibatkan kendaraan tempur lapis baja (panser) untuk membersihkan sisa perlawanan musuh. Dukungan panser memberikan perlindungan bagi infantri saat melakukan penggeledahan dan penetralan posisi musuh. Setiap unit diwajibkan melaporkan posisi setiap 15 menit melalui radio taktis untuk memastikan sinkronisasi.
Koordinasi dan Komunikasi: Kunci Keberhasilan Serangan
Komandan latihan menekankan pentingnya koordinasi antara peleton senapan, mortir, dan panser. Prosedur komunikasi menggunakan kode taktis yang telah disepakati sebelumnya, sehingga setiap perubahan situasi dapat direspon dalam hitungan detik. Penggunaan instrumentasi elektronik memungkinkan pengukuran waktu respons dan akurasi pergerakan — data ini kemudian dianalisis untuk menyempurnakan taktik di masa depan. Latihan ini juga menjadi ajang uji coba protokol pertahanan aktif, di mana setiap prajurit harus mampu mengambil keputusan cepat berdasarkan informasi dari radio taktis.
Skema serangan tiga gelombang ini mengajarkan bahwa tempo dan presisi adalah segalanya. Dalam pertempuran modern, keterlambatan satu menit pada gelombang pertama bisa mengakibatkan kegagalan infiltrasi infantri. Oleh karena itu, latihan taktis TNI AD di Martapura menjadi bukti bahwa kesiapsiagaan bukan hanya soal kekuatan personel, tetapi juga kemampuan mengelola kronologi operasi secara ketat. Pelajaran taktis yang bisa dipetik: setiap prajurit wajib memahami perannya dalam rantai serangan, dan koordinasi lintas satuan harus dilatih hingga menjadi refleks.