Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Puslatpur Marinir Candi Asem Gelar Latihan Dukungan Tembakan Naval Gunfire

Latihan naval gunfire di Puslatpur Candi Asem pada 1 September 2026 menguji koordinasi antara Forward Observer Marinir dan KRI fregat dalam menembak sasaran darat. Dengan metode bracket, tembakan pertama dikoreksi untuk mencapai sasaran, diikuti tembakan salvo untuk efek kejut. Latihan ini menekankan pentingnya presisi dan komunikasi lintas matra dalam operasi amfibi.

Puslatpur Marinir Candi Asem Gelar Latihan Dukungan Tembakan Naval Gunfire

Pada 1 September 2026, Pusat Latihan Tempur Marinir (Puslatpur) Candi Asem, Pasuruan, menggelar latihan dukungan tembakan naval gunfire yang menguji koordinasi lintas matra antara TNI AL dan TNI AD. Latihan ini melibatkan KRI jenis fregat yang menembak sasaran darat di pulau kosong, dengan skenario simulasi serangan amfibi. Berikut adalah rincian prosedur taktis yang diterapkan, mulai dari pengintaian hingga tembakan salvo.

Prosedur Penentuan Sasaran dan Koreksi Tembakan

Latihan ini dimulai dengan peran Forward Observer (FO) dari Marinir yang berada di garis depan darat. FO bertugas menentukan koordinat sasaran secara presisi menggunakan GPS militer dan mengirimkannya melalui radio taktis ke pusat koordinasi tembakan di KRI. Komunikasi dilakukan dengan kode standar militer untuk memastikan kecepatan dan akurasi.

Setelah data koordinat diterima, KRI melaksanakan koreksi tembakan menggunakan metode bracket. Metode ini melibatkan dua tembakan pertama sebagai uji coba untuk memperkirakan jarak dan arah sasaran. Berikut adalah tahapan koreksi yang diamati:

  • Spotting Round (Tembakan Uji): Tembakan pertama meleset 200 meter ke timur dari titik sasaran. FO mencatat deviasi ini sebagai dasar koreksi.
  • Koreksi Pertama: FO memerintahkan koreksi 'left 100, add 50' melalui radio. Ini berarti menggeser tembakan 100 meter ke kiri dan menambah jarak 50 meter untuk mendekati sasaran.
  • Tembakan Kedua: Hasil tembakan kedua tepat mengenai sasaran, mengonfirmasi akurasi koreksi. FO kemudian memberikan sinyal 'fire for effect' untuk melanjutkan ke tahap salvo.

Tembakan Salvo dan Efek Kejut

Setelah tembakan kedua tepat sasaran, KRI diperintahkan untuk melaksanakan tembakan salvo sebanyak 3 butir. Tembakan salvo ini dirancang untuk memberikan efek kejut maksimal pada sasaran darat, mengganggu konsentrasi musuh, dan mempersiapkan pendaratan pasukan Marinir. Dalam simulasi, salvo ini menunjukkan bagaimana koordinasi cepat antara FO dan KRI dapat menghasilkan serangan yang efektif.

Latihan ini tidak hanya menguji kemampuan menembak, tetapi juga kesiapan komunikasi taktis antara matra laut dan darat. Prosedur naval gunfire seperti ini menjadi kunci dalam operasi amfibi, di mana dukungan tembakan dari laut dibutuhkan untuk menetralisir pertahanan pantai sebelum pasukan mendarat.

Analisis Taktis: Pelajaran dari Latihan

Latihan di Puslatpur Candi Asem ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya presisi dan adaptasi dalam dukungan tembakan naval. Metode bracket yang digunakan menunjukkan bagaimana kesalahan kecil pada tembakan pertama dapat diperbaiki dengan cepat melalui komunikasi yang efisien antara FO dan KRI. Bagi Marinir, latihan ini mengingatkan bahwa koordinasi lintas matra bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang disiplin prosedur dan kepercayaan antar unit. Dalam pertempuran nyata, kemampuan untuk mengoreksi tembakan dalam hitungan detik bisa menjadi pembeda antara sukses dan kegagalan operasi.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Puslatpur Marinir Candi Asem, TNI AL, TNI AD
Lokasi: Candi Asem, Pasuruan