Pada 1 September 2026, Detasemen 81 Kopassus menggelar latihan combat diving di perairan Teluk Jakarta yang secara spesifik menyimulasikan skenario penyusupan bawah air ke objek vital di pesisir. Latihan ini dirancang untuk menguji kemampuan personel dalam infiltrasi diam-diam melalui lingkungan laut, dengan menggunakan peralatan rebreather sirkuit tertutup yang meminimalkan gelembung — sebuah elemen kritis untuk menghindari deteksi. Artikel ini akan membedah tahapan taktis latihan tersebut secara detail, mulai dari persiapan hingga eksekusi akhir, sehingga pembaca dapat memahami prosedur standar yang diterapkan oleh Kopassus dalam operasi amfibi rahasia.
Tahapan Teknis Combat Diving: Dari Briefing Hingga Ascent Terkontrol
Latihan dimulai dengan briefing di titik kumpul di Pelabuhan Tanjung Priok, di mana komandan tim menjelaskan skenario, formasi penyusupan, serta titik entry dan exit. Setelah itu, personel melaksanakan entry air dengan teknik back roll dari perahu karet — sebuah metode yang memungkinkan transisi cepat dan stabil ke dalam air tanpa menimbulkan percikan besar. Setelah masuk, tim memulai navigasi bawah air dengan kecepatan konstan 2 knot sambil menggunakan kompas dan depth gauge untuk mempertahankan jalur dan kedalaman yang tepat. Berikut rincian tahapan kunci:
- Briefing (Pelabuhan Tanjung Priok): Pemahaman skenario, pembagian peran, serta pengecekan peralatan rebreather dan persenjataan.
- Entry Air (Back Roll): Personel melompat mundur dari perahu karet untuk menghindari tabrakan dengan lambung dan menjaga posisi senjata tetap aman.
- Navigasi Bawah Air: Tim berenang dalam formasi rapat dengan kecepatan 2 knot, menggunakan kompas magnetik dan depth gauge untuk mempertahankan kedalaman 3-5 meter, serta melakukan koreksi arah secara periodik.
- Ascent Terkontrol: Mendekati target pada jarak 50 meter, komandan tim memberi isyarat untuk naik ke permukaan dengan kecepatan 9 meter per menit — standar militer untuk meminimalkan risiko dekompresi serta menghindari kebisingan gelembung.
Penyusupan dan Simulasi Penjinakan Bom: Aksi Senyap di Garis Pantai
Setelah muncul ke permukaan, tim segera mengamankan area sekitar dengan senjata MP5 yang telah dibungkus kedap air. Langkah ini memungkinkan senjata tetap berfungsi meski terendam air asin selama latihan. Dengan posisi sembunyi di balik struktur pelabuhan, tim melakukan pengintaian dan mendekati target simulasi — sebuah objek vital di pesisir. Latihan diakhiri dengan simulasi penjinakan bom, di mana personel harus membuka paket kedap air yang berisi alat detonasi dan memutuskan kabel dengan teknik standar EOD (Explosive Ordnance Disposal). Seluruh skenario merepresentasikan taktik penyusupan yang memerlukan keheningan, kecepatan, dan presisi tinggi.
Analisis taktis menunjukkan bahwa penggunaan rebreather sirkuit tertutup dalam combat diving oleh Kopassus menempatkan prioritas utama pada stealth — tanpa gelembung, tim dapat mendekati target tanpa meninggalkan jejak visual di permukaan. Kecepatan renang 2 knot yang dipilih memungkinkan keseimbangan antara mobilitas dan penghematan oksigen, sementara kedalaman 3-5 meter mengurangi risiko deteksi sonar. Pelajaran penting yang bisa dipetik adalah bahwa keberhasilan misi penyusupan bawah air tidak hanya bergantung pada peralatan canggih, tetapi juga pada disiplin formasi, navigasi presisi, dan koordinasi diam-diam antar personel — semua adalah fondasi operasi amfibi yang efektif.