Dalam simulasi pertahanan udara terintegrasi yang digelar TNI AU, fokus utama adalah menguji skema penempatan dan prosedur engagement dari sistem rudal berlapis (layered air defense). Skema ini dirancang untuk menghadapi ancaman udara musuh secara bertahap—dari jarak jauh hingga jarak dekat—dengan memaksimalkan kemampuan deteksi dan tembakan setiap lapisan. Latihan ini tidak sekadar menembak sasaran, melainkan mengasah koordinasi antar sistem yang berbeda agar tercipta pertahanan udara yang rapat dan sulit ditembus.
Lapisan Pertama: NASAMS dan Prosedur Engagement Terkomputerisasi
Lapisan pertama mengandalkan NASAMS (Norwegian Advanced Surface-to-Air Missile System) dengan jangkauan hingga 40 km. Unit NASAMS ditempatkan di posisi terlindung di belakang garis depan, namun radarnya dinaikkan (elevated) atau ditempatkan di dataran tinggi untuk memaksimalkan cakupan deteksi rendah (low-level coverage). Prosedur tembaknya sepenuhnya terkomputerisasi dan mengikuti tahapan yang ketat:
- Radar NASAMS mendeteksi dan mengklasifikasikan target udara (misalnya, bomber vs fighter).
- Sistem komando memilih target prioritas—biasanya bomber yang membawa muatan lebih besar dipilih lebih dulu.
- Operator memberikan persetujuan akhir (final authorization) sebelum rudal ditembakkan.
Proses ini memungkinkan respons cepat dan akurat, tetapi tetap ada elemen manusia yang mengontrol keputusan akhir untuk mencegah kesalahan tembak.
Lapisan Kedua: RBS-70 dan Laser Beam Riding Manual
Lapisan kedua adalah sistem point-defense jarak menengah-dekat seperti RBS-70. Sistem ini bersifat mobile, dipasang pada kendaraan atau ditempatkan di titik vital seperti pangkalan udara atau markas komando. Berbeda dengan NASAMS yang fire-and-forget, RBS-70 menggunakan panduan laser beam riding secara manual. Operator harus:
- Melacak target secara visual atau melalui sighting unit.
- Menjaga crosshair tetap pada target selama rudal dalam penerbangan hingga mengenai sasaran.
Prosedur manual ini melatih keterampilan operator di bawah tekanan tinggi dan melengkapi kelemahan sistem otomatis NASAMS, terutama terhadap ancaman yang tiba-tiba muncul di jarak dekat.
Skema taktis yang disimulasikan adalah 'Shoot-Look-Shoot' dan 'Decoy Deployment'. Setelah satu sistem menembak (shoot), radar lain mengamati (look) apakah target jatuh. Jika tidak, sistem lain di lapisan berbeda segera menembak kembali (shoot). Untuk mengelabui rudal anti-radiasi musuh, simulator menggunakan decoy (umpan) yang memancarkan sinyal radar mirip aslinya, menarik serangan jauh dari unit pertahanan udara yang sebenarnya. Koordinasi frekuensi dan Identifikasi Kawan-Lawan (IFF) antar sistem yang berbeda menjadi fokus utama latihan untuk mencegah insiden friendly fire.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah bahwa sistem pertahanan udara modern tidak bisa hanya mengandalkan satu jenis rudal atau satu lapisan saja. Perpaduan antara sistem jarak jauh yang terkomputerisasi (NASAMS) dan sistem jarak dekat yang manual (RBS-70) memberikan fleksibilitas dan redundansi. Kemampuan 'Shoot-Look-Shoot' memastikan setiap rudal digunakan secara efisien, sementara penggunaan decoy mengajarkan pentingnya kamuflase elektronik. Namun, tanpa koordinasi IFF yang ketat, semua keunggulan ini bisa sia-sia karena risiko menembak kawan sendiri. Latihan seperti ini adalah fondasi untuk membangun pertahanan udara yang tangguh dan adaptif.