Pada latihan pendaratan amfibi yang digelar TNI AL di Pantai Lampung, 1 September 2026, prajurit Marinir menerapkan prosedur eselon tiga gelombang yang terstruktur. Skema ini dirancang untuk memastikan setiap eselon memiliki tugas spesifik, mulai dari pengamanan awal hingga pengiriman logistik, dengan formasi serbu yang disesuaikan terhadap ancaman pantai. Koordinasi antara unsur pendarat, tembakan bantuan, dan pengintaian udara menjadi kunci keberhasilan operasi pendaratan amfibi.
Prosedur Eselon Tiga Gelombang: Tahapan Serbu dan Formasi
Latihan ini membagi pasukan ke dalam tiga gelombang, masing-masing menggunakan formasi serbu yang berbeda sesuai fungsinya:
- Gelombang pertama — menggunakan Landing Vehicle Tracked (LVT) dalam formasi V-shaped. Tujuan utama: mengamankan titik pendaratan dan menyediakan jembatan bagi gelombang berikutnya. Formasi ini memusatkan daya tembak ke depan dan mempersulit tembakan senjata dari samping.
- Gelombang kedua — membawa kendaraan taktis dan mortir dengan formasi line abreast. Formasi ini memungkinkan penyebaran lebar untuk mengisi celah pertahanan dan memberikan dukungan tembak tidak langsung segera setelah darat.
- Gelombang ketiga — pendaratan logistik dan peralatan berat menggunakan Landing Craft Utility (LCU). Tidak menggunakan formasi serbu, melainkan prioritas kecepatan bongkar muat di area yang sudah diamankan.
Urutan eselon ini menunjukkan prinsip dasar doktrin pendaratan amfibi: amankan pantai dengan kekuatan tempur awal, lalu tingkatkan kemampuan tempur dan logistik secara bertahap.
Koordinasi Unsur Dukungan: Tembakan Bantuan dan Pengintaian Udara
Keberhasilan pendaratan tidak hanya bergantung pada manuver darat. Dalam latihan ini, koordinasi antara unsur pendarat, tembakan bantuan (artileri dan dukungan tembak laut), serta pengintaian udara diatur dalam rencana operasi yang matang. Pengintaian udara memberikan peta ancaman real-time, sementara tembakan bantuan menetralisir pertahanan pantai sebelum dan selama pendaratan. Perwira Taktis (TAK) memonitor perubahan situasi dan menyesuaikan gelombang jika perlu — misalnya, jika gelombang pertama mendapat perlawanan sengit, gelombang kedua dapat dialihkan ke posisi alternatif.
Latihan ini juga menguji sistem komunikasi antar eselon dan pusat komando. Setiap komandan LVT dan LCU menerima melalui radio taktis yang terenkripsi, memungkinkan perubahan formasi secara cepat. Prosedur ini menjadi standar latihan Marinir di Indonesia untuk menjaga kesiapsiagaan menghadapi ancaman kontemporer.
Analisis Taktis. Prosedur eselon tiga gelombang dengan formasi V-shaped dan line abreast mengajarkan pentingnya fleksibilitas dalam operasi amfibi. Formasi V-shaped memberikan perlindungan frontal namun membutuhkan koordinasi ketat antar unit. Sementara formasi line abreast memfasilitasi konsolidasi area dengan cepat. Pelajaran utama: setiap eselon harus memiliki rencana kontinjensi untuk menghadapi perubahan ancaman, serta integrasi dukungan udara dan tembakan bantuan wajib dipraktikkan agar manuver pendaratan tidak terisolasi dari elemen pendukung.