Pada 23-24 Agustus 2026, Royal Australian Air Force (RAAF) dan TNI Angkatan Udara menggelar latihan gabungan bertajuk Operation Plan Eagle di Lanud Iswahyudi, Madiun. Latihan ini dirancang khusus untuk menguji doktrin air superiority melalui skenario deep strike terhadap sasaran darat yang dijaga ketat oleh pertahanan udara musuh. Prosedurnya dimulai dengan tahap Offensive Counter Air (OCA), di mana empat F-16 Fighting Falcon dari Skuadron 3 TNI AU melakukan sweep untuk mengeliminasi pesawat musuh, dipandu oleh radar darat dan AWACS E-7 Wedgetail milik Australia. Setelah wilayah udara dikuasai, masuk gelombang kedua: dua F/A-18 Hornet RAAF menjalankan misi Wild Weasel untuk menekan pertahanan udara darat menggunakan rudal anti-radiasi AGM-88 HARM. Pada fase terakhir, dua pesawat serang—Su-27 dan F-16—melakukan strike dengan bom Paveway IV berpanduan laser.
Tahapan Misi dan Koordinasi Taktis
Seluruh rangkaian misi dalam latihan gabungan ini menggunakan NATO standard operating procedure (SOP) sebagai acuan koordinasi. Prosedur detail tersebut mencakup:
- Check-in pada waypoint: Setiap pesawat tempur melapor masuk pada titik koordinat yang telah ditentukan di peta digital.
- Inter-flight communication dengan brevity code: Semua komunikasi antar pilot menggunakan kode singkat standar NATO, seperti "Fox Three" untuk tembakan rudal udara-ke-udara jarak jauh.
- Pembagian gelombang serangan: Gelombang pertama (OCA) membersihkan ancaman udara, gelombang kedua (Wild Weasel) menekan radar darat, dan gelombang ketiga (strike) menghantam sasaran utama.
Latihan ini melibatkan total 12 pesawat tempur, 3 tanker KC-135 untuk pengisian bahan bakar di udara, dan 2 kru AWACS yang bertindak sebagai komando kendali. Penggunaan AWACS E-7 Wedgetail dari Australia memberikan keunggulan deteksi dan pengintaian jarak jauh, sehingga koordinasi taktis antar gelombang bisa berjalan mulus tanpa jeda.
Peran Doktrin Air Superiority dalam Latihan Gabungan
Doktrin air superiority yang diuji dalam Operation Plan Eagle menekankan pentingnya penguasaan wilayah udara sebelum masuk ke fase penyerangan darat. Tanpa kendali penuh di udara, pesawat serang seperti Su-27 dan F-16 berisiko dijatuhkan oleh pesawat musuh yang masih aktif. Karena itu, latihan ini menyimulasikan skenario di mana radar musuh harus ditekan terlebih dahulu oleh misi Wild Weasel—yang menjadi spesialisasi F/A-18 Hornet RAAF dengan rudal AGM-88 HARM. Setelah radar buta, barulah strike dilakukan dengan presisi tinggi menggunakan bom Paveway IV yang dipandu laser. Koordinasi ini menunjukkan bagaimana latihan gabungan antara dua negara dapat memadukan kemampuan tempur udara dengan taktik penekanan pertahanan darat secara sinergis.
Dari segi pelajaran taktis, latihan Operation Plan Eagle mengajarkan pentingnya integrasi antar platform—dari AWACS sebagai pengendali, tanker sebagai pendukung logistik, hingga pesawat tempur multiperan yang membawa misi berbeda. Setiap elemen bergantung satu sama lain; kegagalan di satu tahap dapat mengompromikan seluruh operasi. Bagi penggemar militer, latihan ini menjadi contoh nyata bagaimana doktrin air superiority diterapkan dalam skenario deep strike modern, di mana kecepatan, presisi, dan koordinasi lintas negara menjadi kunci keberhasilan.