Pada 28 Agustus 2026, TNI AU menggelar latihan Air Combat Manoeuvring (ACM) di Lanud Iswahjudi yang menguji taktik defensif High-G Barrel Roll — sebuah manuver yang dirancang untuk memutus kuncian radar musuh sambil mempertahankan energi tempur. Latihan ini melibatkan delapan pesawat F-16 yang berhadapan dalam empat skenario simulasi pertempuran udara, di mana setiap pilot harus menerapkan teknik guling berkecepatan tinggi dengan gaya gravitasi mencapai 9G. Manuver ini bukan sekadar akrobatik, melainkan taktik terstruktur yang memanfaatkan perubahan arah mendadak untuk mengelabui pengejar, dengan prinsip bahwa kehilangan energi sesaat adalah investasi untuk mengamankan posisi defensif yang lebih kuat.
Prosedur Tiga Fase Manuver High-G Barrel Roll
Prosedur barrel roll dalam latihan ini dibagi menjadi tiga fase ketinggian, masing-masing dengan tujuan spesifik untuk mengoptimalkan energi dan menghindari lock radar. Berikut rincian setiap tahap yang harus diikuti pilot:
- Fase Awal (Altitude 10.000 ft): Dua pesawat F-16 terbang dalam formasi line abreast — sejajar bahu-membahu — dengan kecepatan tinggi sekitar 400 knot. Posisi ini memungkinkan pilot saling mengawasi sektor belakang dan mempersiapkan respons terhadap ancaman dari arah jam 6.
- Fase Manuver (Altitude 5.000 ft): Saat musuh simulasi mendekat dari belakang, pilot melakukan roll penuh (full roll) diikuti tarikan stick yang tajam ke belakang. Kombinasi ini menghasilkan G-force hingga 9G, mengubah arah pesawat secara vertikal dan horizontal secara simultan. Tubuh pilot dipaksa menahan tekanan yang setara dengan sembilan kali berat badannya — tanpa teknik pernapasan dan G-suit, risiko G-LOC (loss of consciousness) sangat tinggi.
- Fase Penyelamatan (Climb Kembali): Setelah manuver, pesawat melakukan climb cepat kembali ke altitude 10.000 ft untuk memulihkan energi potensial. Pada titik ini, pilot memeriksa radar dan visual untuk memastikan musuh kehilangan lock.
Prosedur Penanganan G-Force dan Evaluasi Latihan
Setiap pilot yang terlibat dalam latihan Air Combat Manoeuvring ini menggunakan G-suit (pakaian anti-gravitasi) yang secara otomatis mengompresi bagian perut dan kaki untuk mencegah darah mengalir ke bawah. Selain itu, mereka menerapkan breathing technique khusus — menarik napas dalam lalu menghembuskan secara terkontrol — untuk mempertahankan kesadaran di bawah tekanan 9G. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa taktik barrel roll efektif dalam 70% situasi untuk memutuskan kuncian radar musuh. Kegagalan 30% biasanya terjadi saat musuh simulasi menggunakan radar look-down dengan resolusi tinggi atau saat pesawat tidak cukup cepat memulihkan energi setelah manuver.
Pelajaran taktis utama dari latihan di Lanud Iswahjudi ini adalah bahwa barrel roll bukan sekadar gerakan menghindar, melainkan investasi energi yang harus diperhitungkan. Dalam pertempuran nyata, keputusan untuk melakukan manuver ini harus mempertimbangkan status bahan bakar, kecepatan, dan kemampuan pemulihan. Pilot TNI AU menunjukkan bahwa penguasaan teknik High-G barrel roll adalah kunci untuk bertahan dalam situasi air combat yang genting, di mana setiap derajat arah dan setiap G-force yang dikelola bisa menentukan hidup dan mati.