Super Garuda Shield 2026 mengusung konsep latihan tersebar yang revolusioner, di mana operasi gabungan dilaksanakan secara simultan di tiga pulau utama: Jawa, Sumatra, dan Kalimantan. Skema distribusi geografis ini dirancang untuk menguji kemampuan Command and Control (C2) dalam mengelola operasi skala besar dengan jarak tempuh terpisah. Pusat komando utama (main command post) ditempatkan di Bandung, sementara pos komando terdepan (forward command post) diturunkan ke setiap lokasi latihan utama. Ini adalah ujian nyata bagi interoperabilitas antar unsur TNI dan mitra asing, di mana koordinasi lintas matra harus berjalan mulus meskipun berada di medan berbeda.
Baturaja: Simulasi Pertempuran Hutan dan Perkotaan Terpadu
Di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Baturaja, Sumatera Selatan, fokus latihan adalah Land Combat dan Land Joint Strike. Prosedur dimulai dengan pergerakan pasukan (force deployment) menggunakan konvoi darat dan udara menuju assembly area. Setelah terkumpul, pasukan gabungan melaksanakan serangkaian manuver taktis yang terstruktur:
- Pertempuran di daerah perkotaan (MOUT): Teknik fire and movement diterapkan untuk merebut bangunan, dengan koordinasi tembakan penekan dan pergerakan cepat.
- Pertempuran hutan: Pasukan menggunakan bounding overwatch, di mana satu elemen bergerak sementara elemen lain memberikan perlindungan tembakan.
- Koordinasi serangan antara IFV dan infantri: Infantry fighting vehicle (contoh: BMP-3F atau Pindad Badak) bergerak maju dengan dukungan tembakan langsung, sementara pasukan infantri membersihkan sisa perlawanan di titik-titik kritis.
Setiap tahapan dinilai kemampuannya dalam hal interoperabilitas, seperti komunikasi lintas satuan dan penggunaan data taktis bersama. Di Baturaja, medan hutan tropis dan urban yang kompleks menguji kemampuan adaptasi pasukan dalam lingkungan yang rawan ambush dan close quarter battle.
Nunukan: Operasi Bantuan Bencana dengan Logistik Udara
Sementara itu, di Nunukan, Kalimantan Utara, materi utama adalah Humanitarian Assistance and Disaster Relief (HADR) dengan skenario bencana banjir besar yang memutus akses darat. Prosedur standar yang dilatih meliputi beberapa tahapan kunci:
- Rapid Disaster Assessment (RDA): Menggunakan drone dan helikopter untuk memetakan area terdampak dan mengidentifikasi korban terisolasi.
- Establishment of Drop Zone (DZ) dan Landing Zone (LZ): Tim marka darat mempersiapkan area pendaratan logistik udara, termasuk penetapan titik koordinat menggunakan GPS.
- Pembangunan jembatan Bailey: Tim engineering gabungan berlatih merakit jembatan darurat dalam waktu singkat untuk membuka jalur evakuasi.
- Triase massal dan evakuasi korban: Tim medis menerapkan triase warna (merah, kuning, hijau, hitam) di lapangan, lalu mengevakuasi korban menggunakan perahu karet dan helikopter.
Latihan ini menguji koordinasi antara unsur militer, pemerintah daerah, dan organisasi kemanusiaan internasional dalam skenario kompleks. Interoperabilitas di sini diukur dari kecepatan reaksi bersama dan distribusi peralatan antarlembaga.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: Konsep latihan tersebar memaksa setiap eselon untuk menguasai mission command — kemampuan mengambil keputusan taktis secara mandiri tanpa menunggu perintah dari pusat. Di Baturaja, penguasaan teknik bounding overwatch dan fire and movement menjadi kunci dalam pertempuran jarak dekat. Di Nunukan, kecepatan pembangunan jembatan Bailey dan triase massal menentukan keberhasilan evakuasi. Interoperabilitas bukan sekadar peralatan yang kompatibel, melainkan kesamaan prosedur dan kepercayaan antar unit.