Pada 24 Agustus 2026, TNI Angkatan Darat menggelar Latihan Taktis Manuver Bantuan Tembak (Latbakjurtak) di Puslatpur Cilodong, Bogor. Latihan ini menyimulasikan skenario pertempuran nyata dengan mengintegrasikan sistem artileri modern CAESAR 155 mm dan drone pengintai untuk koreksi tembakan secara real-time. Prosedurnya dirancang untuk menguji kecepatan dan akurasi dalam memberikan dukungan tembakan kepada pasukan manuver. Berikut adalah pembedahan tahapan taktis yang dijalankan dalam latihan ini.
Tahapan Prosedur Bantuan Tembak Terintegrasi
Latihan dimulai dengan penetapan target oleh Forward Observer (FO) yang bertugas di garis depan. FO melaporkan koordinat target ke Pusat Komando Batalyon Artileri. Setelah itu, dilakukan verifikasi visual menggunakan drone UAV untuk memastikan tidak ada perubahan posisi target atau keberadaan elemen ramah. Proses ini krusial untuk menghindari friendly fire dan memastikan akurasi. Berikut rincian langkah-langkah yang dijalankan:
- Langkah 1 – Pelaporan Koordinat: FO mengirimkan data target (grid koordinat, elevasi, dan deskripsi) ke pusat komando.
- Langkah 2 – Verifikasi Drone: UAV diterbangkan untuk konfirmasi visual. Drone mengirimkan video langsung ke ruang komando.
- Langkah 3 – Tembakan Kalibrasi: Howitzer CAESAR menembakkan tiga butir peluru untuk mengukur deviasi dari titik target.
- Langkah 4 – Koreksi Bracket Adjustment: Jika tembakan pertama meleset 100 meter ke timur, tembakan kedua dikoreksi 50 mil ke barat. Metode ini mengurung target dalam rentang (bracket).
- Langkah 5 – Tembakan Salvo Penghancuran: Setelah tembakan tepat, dilakukan tembakan serentak (salvo) untuk menghancurkan target.
Setelah tembakan persiapan selesai, waktu nol (zero hour) ditetapkan pada 45 menit sejak awal prosedur. Pada saat itulah dua kompi mekanis mulai bergerak maju untuk melaksanakan manuver perebutan posisi.
Analisis Manuver dan Integrasi Aset
Latihan ini memperlihatkan bagaimana sistem artileri modern seperti CAESAR 155 mm mampu memberikan bantuan tembakan presisi yang mendukung pergerakan pasukan darat. Penggunaan drone pengintai mempercepat siklus koreksi tembakan, dari metode konvensional yang mengandalkan radio dan peta menjadi sistem digital real-time. Manuver dua kompi mekanis yang bergerak setelah tembakan persiapan menunjukkan pentingnya sinkronisasi antara elemen tembak dan gerak. Dalam taktik tempur, timing zero hour 45 menit memberikan jendela bagi artileri untuk melumpuhkan pertahanan musuh sebelum infanteri masuk. Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan ini adalah bahwa integrasi aset pengintaian (drone) dan artileri modern mampu memperpendek sensor-to-shooter loop, meningkatkan daya hantam, dan mengurangi risiko bagi pasukan manuver. Ke depannya, latihan semacam ini akan terus dikembangkan untuk mengadopsi sistem kendali tembakan terautomasi.