Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Simulasi Serangan Drone di Pangkalan AU: TNI AU Latih Personel Gunakan Sistem Jammer

TNI AU menggelar simulasi pertahanan pangkalan terhadap 10 drone quadcopter di Lanud Halim Perdanakusuma menggunakan sistem jammer SkyGuard dan senapan jaring. Personel dibagi dalam tiga tim dan berhasil menjatuhkan 80% drone dalam 5 menit. Latihan ini akan diperluas ke pangkalan lain sebagai bagian dari pengembangan doktrin Counter-UAV TNI AU.

Simulasi Serangan Drone di Pangkalan AU: TNI AU Latih Personel Gunakan Sistem Jammer

Pada 26 Agustus 2026, TNI AU menggelar simulasi pertahanan pangkalan terhadap ancaman drone di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Skenario menggunakan 10 unit drone quadcopter yang membawa muatan eksplosif palsu. Personel dilatih menggunakan sistem Counter-Unmanned Aerial Vehicle (C-UAV) portable bernama SkyGuard, serta senapan anti-drone yang menembakkan jaring. Simulasi ini menjadi bagian dari pengembangan doktrin pertahanan udara lapangan TNI AU terhadap ancaman unmanned yang kian masif.

Tahapan Prosedur Counter-UAV: Deteksi hingga Netralisasi

Prosedur dimulai dengan deteksi drone menggunakan radar portabel dan kamera optik. Setelah target teridentifikasi, operator jammer mengaktifkan pengacak frekuensi 2,4 GHz dan 5,8 GHz secara bergantian. Langkah ini bertujuan memutus jalur kendali dan video downlink drone, sehingga membuatnya kehilangan kendali atau kembali ke titik awal. Tahap kedua adalah penembakan dengan senapan anti-drone yang menembakkan jaring, dikhususkan untuk drone yang berada dalam jarak 100 meter. Berikut rincian tahapannya:

  • Deteksi: Radar portabel dan kamera optik memindai sektor udara pangkalan. Setiap objek mencurigakan diverifikasi oleh operator.
  • Identifikasi & Target Acquisition: Setelah konfirmasi, data posisi dan kecepatan drone dikirim ke tim jammer dan tim penangkapan melalui radio taktis.
  • Jammer Activation: Operator SkyGuard mengaktifkan pengacak frekuensi 2,4 GHz selama 10 detik, lalu beralih ke 5,8 GHz untuk mengantisipasi perubahan frekuensi drone musuh.
  • Engagement Jarak Dekat: Jika drone masih bergerak dan berada dalam radius 100 meter, tim penangkapan menggunakan senapan jaring untuk menjerat rotor atau badan drone.

Pembagian Tim dan Koordinasi Taktis

Personel dibagi dalam tiga tim: tim deteksi, tim jammer, dan tim penangkapan. Setiap tim berkoordinasi melalui radio taktis dengan protokol komunikasi yang telah ditetapkan. Tim deteksi bertugas mengawasi pergerakan drone dan memberikan informasi kontinu. Tim jammer bertanggung jawab mengaktifkan sistem SkyGuard pada momen yang tepat, sementara tim penangkapan bersiaga dengan senapan jaring. Simulasi juga mengajarkan prosedur evakuasi personel jika drone berhasil meledak atau jatuh di area vital pangkalan. Evakuasi dilakukan dengan rute yang telah ditandai dan titik berkumpul yang aman.

Hasil simulasi menunjukkan 80% drone berhasil dijatuhkan dalam waktu 5 menit. Kombinasi antara jammer frekuensi ganda dan senapan jaring terbukti efektif menangani ancaman drone dalam skala kecil-menengah. Latihan ini akan diperluas ke pangkalan AU lainnya sebagai bagian dari program peningkatan kesiapsiagaan TNI AU terhadap ancaman drone yang semakin canggih. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah pentingnya pertahanan berlapis: deteksi dini, pengacakan sinyal, dan opsi non-kinetik seperti jaring, yang meminimalkan risiko kerusakan infrastruktur. Personel juga harus terus berlatih koordinasi lintas tim agar respons terhadap serangan drone dapat dilakukan dalam hitungan menit.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AU
Lokasi: Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta