Pada 23 Agustus 2026, komunitas militer Indonesia, Combat Simulation Club, menggelar simulasi pertempuran skuad di kawasan hutan lindung Gunung Gede, Jawa Barat. Menggunakan sistem laser tag MILES (Multiple Integrated Laser Engagement System), skenario patroli dan kontak senjata dirancang untuk melatih taktik dasar fire and movement. Begitu kontak terjadi dari arah jam 10, skuad beranggotakan 9 personel langsung membagi diri menjadi dua tim dengan peran berbeda: Tim A sebagai elemen penekan (fire team) dan Tim B sebagai elemen gerak (movement team). Inilah inti dari latihan: bagaimana koordinasi dua tim dalam menerapkan siklus fire and movement secara disiplin.
Prosedur Fire and Movement: Membagi Tim dan Menekan Musuh
Prosedur dimulai saat Tim A segera mengambil posisi cover di balik pohon dan melepaskan tembakan penekan (suppressive fire) dengan burst 3–5 butir setiap 10 detik. Tembakan ini bertujuan mengunci posisi musuh agar tidak mampu membalas secara efektif. Sementara itu, Tim B bergerak zig-zag dengan jarak 5 meter per lompatan menuju flank kanan musuh. Setelah Tim B mencapai posisi baru, mereka memberikan tembakan sementara Tim A bergerak maju. Siklus ini diulang secara bergantian hingga jarak 20 meter dari posisi musuh. Berikut rincian peran masing-masing tim:
- Tim A (Fire Team): melepaskan suppressive fire dengan burst 3–5 butir per 10 detik, menjaga tekanan tembakan agar musuh tetap berlindung.
- Tim B (Movement Team): bergerak zig-zag dengan jarak 5 meter per lompatan ke arah flank kanan, memanfaatkan moment of surprise saat tembakan penekan aktif.
- Siklus: setelah Tim B mencapai posisi baru, mereka mengambil alih peran penekan, sementara Tim A bergerak maju. Pola ini diulang sampai jarak 20 meter dari musuh.
Pada jarak tersebut, granat asap dilempar untuk menutupi serangan frontal, memungkinkan skuad melakukan pengurungan akhir.
Simulasi Taktis dan Evaluasi: Disiplin Tembakan hingga Isyarat Tangan
Setiap anggota dievaluasi berdasarkan tiga aspek utama: disiplin tembakan (konsistensi burst dan akurasi), kecepatan perpindahan (kemampuan menjaga ritme zig-zag tanpa kehilangan cover), dan komunikasi isyarat tangan (efektivitas memberi kode tanpa suara). Sistem MILES memastikan setiap tembakan tercatat secara akurat, baik mengenai atau meleset dari target, sehingga evaluasi bersifat objektif. Latihan ini menekankan bahwa dalam simulasi pertempuran skuad, koordinasi non-verbal adalah faktor penentu keberhasilan fire and movement.
Secara taktis, latihan ini mengajarkan pentingnya koordinasi tim dalam situasi kontak. Gerakan zig-zag dan pemakaian suppressive fire adalah kunci untuk meminimalkan risiko tembakan musuh saat satu tim bergerak. Pembaca bisa memetik pelajaran bahwa dalam pertempuran skuad, disiplin tembakan dan komunikasi non-verbal (isyarat tangan) adalah faktor penentu keberhasilan. Tanpa keduanya, manuver fire and movement bisa gagal dan menimbulkan korban. Bagi penggemar militer, komunitas seperti Combat Simulation Club memberikan kesempatan berharga untuk mempraktikkan taktik dasar yang sering hanya dipelajari secara teoritis.