Kodam Jaya melaksanakan simulasi penanggulangan bencana gempa bumi di Jakarta pada 26 Agustus 2026 dengan mengadopsi taktik militer untuk mempercepat evakuasi. Skenario yang disusun adalah gempa berkekuatan 7,2 SR yang melumpuhkan infrastruktur kota. Langkah pertama dalam prosedur ini adalah pembentukan 'sector of responsibility' oleh komandan lapangan, yang membagi area operasi menjadi empat kuadran. Setiap kuadran dipimpin oleh seorang perwira yang bertanggung jawab penuh terhadap koordinasi tim SAR di wilayahnya.
Pembagian Sektor Tanggung Jawab dan Formasi Pencarian
Pembagian sektor ini memungkinkan komando dan kendali yang lebih terpusat namun tetap responsif. Setiap perwira kuadran kemudian mengerahkan tim dengan teknik 'search and rescue line' — personel berjalan sejajar dengan jarak 5 meter satu sama lain untuk memeriksa reruntuhan secara sistematis. Teknik ini meminimalkan celah pencarian dan memastikan tidak ada area yang terlewat. Berikut rincian tahapan formasi tersebut:
- Personel berbaris dalam satu garis lurus dengan interval 5 meter.
- Setiap anggota tim membawa alat pendeteksi kehidupan dan komunikasi radio.
- Pergerakan dilakukan secara serempak dengan kecepatan lambat, mengikuti komandan regu.
- Setiap temuan korban segera ditandai dengan spidol warna sesuai kategori triase.
Sistem Triase Militer dan Distribusi Logistik
Tim medis militer menerapkan sistem triase START (Simple Triage and Rapid Treatment) untuk mengkategorikan korban menjadi empat warna: merah (kritis), kuning (sedang), hijau (ringan), dan hitam (meninggal). Sistem ini memungkinkan prioritas evakuasi berdasarkan tingkat keparahan. Sementara itu, logistik didistribusikan menggunakan konsep 'supply chain military' dengan titik distribusi tetap yang telah ditentukan sebelum simulasi. Seluruh latihan melibatkan 500 personel dan 30 kendaraan taktis, serta berhasil mengevakuasi 120 korban simulasi dalam waktu 45 menit. Evaluasi mencatat perlunya integrasi lebih baik dengan BPBD untuk memperkuat koordinasi lintas sektor.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik dari simulasi ini adalah pentingnya penerapan doktrin militer dalam situasi bencana sipil. Pembagian sektor tanggung jawab dan formasi pencarian linier terbukti efektif untuk mengoptimalkan sumber daya terbatas. Namun, keterlibatan lembaga sipil seperti BPBD perlu diperkuat agar rantai komando tidak tumpang tindih. Dengan demikian, taktik militer tidak hanya berguna di medan perang, tetapi juga dalam operasi kemanusiaan yang memerlukan kecepatan dan ketepatan.