Pada 28 Agustus 2026, Kodam III/Siliwangi menggelar uji coba lapangan di area latihan Subang, Jawa Barat, untuk mengimplementasikan doktrin pertahanan aktif yang disempurnakan. Fokus utama uji coba ini adalah penerapan formasi segitiga terbalik — sebuah skema manuver yang dirancang untuk memancing musuh masuk ke area terbuka, lalu menjepitnya dari tiga sisi secara simultan. Dengan melibatkan 500 personel dan 10 kendaraan taktis, latihan ini menjadi ajang validasi efektivitas taktik penjepitan dibandingkan formasi lurus konvensional.
Mekanisme Formasi Segitiga Terbalik: Tahapan Penjepitan Tiga Sisi
Prosedur dimulai dengan pembagian pasukan menjadi tiga kelompok utama: kelompok depan (pancing), kelompok sayap kiri, dan kelompok sayap kanan. Setiap kelompok memiliki peran spesifik yang saling bergantung. Berikut langkah-langkah pelaksanaannya:
- Tahap 1 — Umpan Terbuka: Kelompok depan bergerak maju dengan formasi rapat, sengaja memperlihatkan kerentanan agar musuh tergoda untuk melancarkan serangan ke arah mereka.
- Tahap 2 — Reaksi Musuh: Begitu musuh merespon dengan tembakan atau gerak maju, kelompok sayap kiri dan kanan segera bergerak cepat memutar ke arah luar, membentuk huruf 'V' terbalik — dengan mulut 'V' menghadap ke arah musuh.
- Tahap 3 — Penjepitan: Setelah posisi 'V' terbentuk, ketiga kelompok secara serempak memadatkan jarak, menjepit musuh dari tiga arah: depan, kiri, dan kanan. Musuh yang sudah masuk ke dalam area terbuka menjadi tidak memiliki ruang manuver.
Setiap sub-unit dalam masing-masing kelompok menjaga jarak aman 200 meter antar-satuan untuk menghindari tembakan bersilangan (crossfire) yang dapat mengenai pasukan sendiri. Jarak ini dihitung berdasarkan radius sebaran fragmentasi peluru dan jangkauan tembakan senjata organik batalyon.
Koordinasi Sinyal dan Hasil Uji Coba
Komandan sektor menggunakan sinyal asap warna sebagai alat koordinasi antar kelompok. Warna asap tertentu menandai perintah untuk mulai memutar, berhenti, atau melakukan konsolidasi. Metode ini dipilih karena efektif dalam kondisi jarak pandang terbatas dan tidak memerlukan komunikasi radio yang rentan disadap. Setelah skenario berjalan, hasil uji coba menunjukkan bahwa formasi segitiga terbalik mampu menahan laju musuh selama 2 jam lebih lama dibandingkan formasi lurus standar. Keunggulan ini berasal dari efek psikologis pengepungan dan ketidakmampuan musuh untuk memusatkan tembakan ke satu arah.
Secara taktis, doktrin pertahanan aktif yang diuji coba oleh Kodam III/Siliwangi ini membuktikan bahwa konsolidasi pasukan yang terstruktur — dengan kelompok pancing yang sengaja menjadi target — dapat menghasilkan peluang penjepitan yang mematikan. Pelajaran yang bisa dipetik: jangan pernah menganggap formasi rapat sebagai kelemahan; justru bisa menjadi umpan untuk memicu reaksi musuh yang terburu-buru. Bagi para penggemar militer, uji coba ini mengingatkan kembali pentingnya koordinasi sinyal non-elektronik dan disiplin jarak antar-unit dalam operasi taktis tingkat batalyon.