Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
DOKTRIN

Doktrin Baru Brimob Polri: Penanganan Kerusuhan Massa dengan Taktik Water Cannon dan Gas Air Mata

Doktrin baru Brimob Polri menerapkan prosedur bertahap dalam penanganan kerusuhan massa, dimulai dari peringatan, penyemprotan water cannon tekanan rendah (5 bar) ke kaki massa, hingga pelemparan gas air mata jarak 30 meter dengan waktu tunda 3 detik. Formasi segitiga digunakan untuk menghalau massa, dan evaluasi pasca-tindakan dilakukan melalui rekaman operasi. Doktrin ini menekankan eskalasi terkontrol dan keselamatan personel.

Doktrin Baru Brimob Polri: Penanganan Kerusuhan Massa dengan Taktik Water Cannon dan Gas Air Mata

Pada 25 Agustus 2026, Korps Brimob Polri resmi merilis doktrin baru penanganan kerusuhan massa yang mengintegrasikan water cannon dan gas air mata dalam satu prosedur bertahap. Doktrin ini dirancang untuk memberikan respons terukur dan eskalatif, mengikuti prinsip gradual response yang lazim dalam taktik pengendalian massa. Dalam simulasi terbaru di Mako Brimob Kelapa Dua, doktrin ini diujicobakan dengan melibatkan tim khusus yang terdiri dari empat personel per unit water cannon. Berikut adalah rincian prosedur yang wajib dipatuhi oleh setiap personel Brimob saat menghadapi situasi kerusuhan.

Tahapan Prosedur Penggunaan Water Cannon

Doktrin baru menetapkan tiga tahap utama sebelum penggunaan kekuatan fisik langsung. Tahap pertama adalah peringatan lisan dan visual. Personel menggunakan pengeras suara dan spanduk untuk meminta massa membubarkan diri. Jika peringatan tidak diindahkan, tahap kedua dimulai: penyemprotan water cannon dengan tekanan rendah, tepatnya 5 bar, yang diarahkan ke kaki massa. Prosedur ini dilakukan oleh tim yang terdiri dari:

  • Seorang pengemudi yang mengendalikan posisi kendaraan.
  • Seorang operator semprotan yang mengatur tekanan dan semburan air.
  • Dua personel pengaman yang melindungi area sekitar water cannon.

Penyemprotan tekanan rendah bertujuan untuk menjatuhkan dan membubarkan massa tanpa menimbulkan cedera serius. Personel wajib menggunakan pelindung wajah dan rompi anti-benturan selama tahap ini. Setiap unit water cannon beroperasi dalam radius aman 5 meter dari kerumunan untuk menghindari risiko tabrakan.

Formasi Segitiga dan Pelemparan Gas Air Mata

Jika water cannon gagal membubarkan massa, tahap ketiga adalah pelemparan gas air mata. Doktrin menetapkan jarak lemparan 30 meter menggunakan granat tangan dengan waktu tunda 3 detik sebelum meledak. Jarak ini dipilih untuk memberikan waktu bagi personel Brimob melakukan penarikan ke posisi aman. Granat ditembakkan ke area yang memecah konsentrasi massa, bukan langsung ke individu. Pada saat yang sama, formasi segitiga diterapkan untuk menghalau massa ke arah tertentu. Formasi ini terdiri dari tiga baris personel yang saling melindungi, dengan ujung segitiga mengarah ke titik pusat kerumunan. Tujuannya adalah memecah barisan massa dan mengarahkan mereka keluar dari area konflik. Setelah operasi selesai, evaluasi pasca-tindakan dilakukan dengan merekam seluruh operasi dari berbagai sudut. Rekaman ini digunakan sebagai bahan analisis taktis untuk perbaikan prosedur ke depan.

Dari sudut pandang taktis, doktrin baru Brimob ini mengajarkan pentingnya eskalasi yang terkontrol. Dengan memulai dari peringatan, lalu water cannon tekanan rendah, dan baru gas air mata sebagai langkah akhir, risiko eskalasi berlebihan dapat diminimalkan. Personel juga dilatih untuk membaca situasi secara real-time, memanfaatkan formasi segitiga sebagai alat kendali massa yang fleksibel. Bagi penggemar militer, doktrin ini menunjukkan bagaimana prinsip use of force continuum diterapkan dalam konteks kepolisian, mirip dengan taktik pengendalian kerusuhan di negara-negara lain. Pelajaran utamanya: kesuksesan operasi sangat bergantung pada disiplin personel dalam mengikuti prosedur dan kemampuan beradaptasi terhadap dinamika lapangan.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Korps Brimob Polri
Lokasi: Mako Brimob Kelapa Dua