Pada 28 Agustus 2026, Komando Pasukan Katak (Kopaska) menggelar simulasi combat diving di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Simulasi ini dirancang untuk melatih teknik infiltrasi bawah air menuju objek musuh dengan tingkat deteksi minimal. Seluruh prosedur dijalankan secara ketat, mulai dari persiapan peralatan hingga eksekusi pendaratan tempur di permukaan. Dengan menggunakan rebreather dan formasi menyelam yang presisi, tim Kopaska menunjukkan bagaimana operasi bawah air dilakukan secara senyap dan efisien.
Tahapan Pelaksanaan: Dari Persiapan Hingga Pendaratan Tempur
Simulasi dimulai dengan persiapan peralatan yang sangat detail. Setiap personel wajib memeriksa kelengkapan berikut:
- Rebreather – perangkat sirkuit tertutup yang menyaring karbon dioksida dan mendaur ulang oksigen, sehingga hampir tidak menghasilkan gelembung.
- Sirip (fins) khusus untuk gerakan pelan dan minim turbulensi.
- Kompas bawah air untuk navigasi buta.
- Senjata waterproof yang siap digunakan setelah permukaan.
Tim berjumlah delapan orang menyelam dalam formasi V pada kedalaman 10–15 meter. Formasi ini dipilih untuk menjaga jarak pandang dan komunikasi visual antar anggota. Teknik finning yang digunakan adalah gerakan pelan dan terkontrol—bukan tendangan kuat—guna menekan suara getaran air yang dapat tertangkap sonar musuh. Setelah mencapai koordinat target, setiap penyelam melakukan ascent dengan kecepatan 10 meter per menit, diselingi safety stop selama 3 menit di kedalaman 5 meter untuk mencegah dekompresi mendadak.
Saat mencapai permukaan, personel langsung mengambil posisi tempur dengan senjata terarah. Komandan tim memberikan sinyal menggunakan cahaya hijau sebagai aba-aba untuk memulai aksi pendaratan. Seluruh simulasi berlangsung selama 2 jam dengan total 3 kali penyelaman, memastikan setiap anggota menguasai urutan tahapan secara berulang.
Evaluasi Taktis: Rebreathing dan Pengurangan Jejak Deteksi
Hasil evaluasi menunjukkan penggunaan rebreather berkontribusi besar terhadap keberhasilan penyamaran. Jejak gelembung berkurang hingga 90% dibandingkan dengan sistem scuba konvensional. Ini berarti musuh akan sangat sulit mendeteksi keberadaan penyelam, bahkan dengan sonar aktif sekalipun. Ditambah dengan formasi V yang disiplin dan teknik finning pelan, tim Kopaska berhasil meminimalkan tanda-tanda hidroakustik dan visual yang bisa mengkhianati posisi mereka.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik dari simulasi ini adalah pentingnya integrasi teknologi kesunyian (rebreather) dengan prosedur gerakan minimal. Setiap detil—dari pemilihan kedalaman, kecepatan naik, hingga sinyal permukaan—dirancang untuk satu tujuan: menyelesaikan infiltrasi tanpa terdeteksi. Bagi penggemar militer, simulasi ini menjadi gambaran nyata bagaimana pasukan khusus melatih kemampuan combat diving dalam skenario operasi rahasia, di mana setiap gelembung bisa menjadi penentu kematian atau keselamatan.