Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto resmi membuka Latihan Gabungan Bersama Multinasional Super Garuda Shield 2026 di Bandung pada 31 Agustus 2026. Latihan yang berlangsung hingga 11 September 2026 ini melibatkan 4.743 personel dari 21 negara, dengan fokus utama pada pengujian interoperabilitas dan kesiapan tempur pasukan multinasional. Tidak sekadar ajang unjuk kekuatan, pembukaan SGS 2026 menandai dimulainya rangkaian latihan yang dirancang secara sistematis untuk menyelaraskan prosedur operasi antarnegara melalui 12 materi latihan tempur yang terstruktur.
Rincian 12 Materi Latihan: dari Taktik Individu hingga Operasi Gabungan
Kedua belas materi latihan dalam latihan tempur Super Garuda Shield 2026 dibagi dalam tiga kategori utama, masing-masing mengadopsi standar NATO Allied Joint Publication (AJP) series untuk memastikan prosedur operasi bersama yang seragam. Berikut rinciannya:
- Tactical Training: Mencakup infantry marksmanship (ketepatan tembak infanteri), scout stalking (pengintaian diam-diam), VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure), dan patroli. Setiap peserta akan menjalani pelatihan taktis individu untuk membangun fondasi keterampilan tempur dasar.
- Combined Arms Training: Meliputi live fire artillery (tembakan artileri langsung), close air support (dukungan udara jarak dekat), dan manuver kendaraan lapis baja. Sesi ini dirancang untuk mengintegrasikan berbagai cabang dalam satu medan tempur, menguji koordinasi antarsatuan.
- Support Operations: Termasuk air medevac (evakuasi medis udara), combat engineering (rekayasa tempur), dan C4I (Command, Control, Communications, Computers, and Intelligence). Materi ini memastikan dukungan logistik dan komunikasi berjalan lancar dalam operasi multinasional.
Setiap kategori diajarkan secara bertahap menggunakan pendekatan building-block, dimulai dari unit terkecil hingga gabungan antarkomponen.
Struktur Komando dan Fase Building-Block: Membangun Kesiapan Tempur Multinasional
Latihan ini menerapkan tiga fase berurutan: minggu pertama berfokus pada individual training (pelatihan individu), minggu kedua pada unit collective training (pelatihan kolektif satuan), dan minggu ketiga diakhiri dengan joint combined exercise (latihan gabungan bersama). Struktur ini memungkinkan setiap prajurit menguasai prosedur dasar sebelum berintegrasi dalam skala lebih besar. Interoperabilitas antarnegara diuji secara progresif, meminimalkan kebingungan saat operasi nyata.
Komando dan kendali menggunakan model hybrid dengan Combined Joint Task Force (CJTF) headquarters di Bandung sebagai pusat komando. Tiga komando bawahan meliputi: Joint Force Land Component Command (JFLCC) di Martapura, Joint Force Maritime Component Command (JFMCC) di Tanjung Priok, dan Joint Force Air Component Command (JFACC) di Halim Perdanakusuma. Sistem komunikasi mengandalkan jaringan MULTILATERAL dengan enkripsi level KY-58 untuk lalu lintas rahasia dan SINCGARS untuk komunikasi taktis. Pembagian ini memastikan setiap matra (darat, laut, udara) memiliki rantai komando yang jelas namun tetap terintegrasi di bawah satu payung CJTF.
Sebagai bagian dari diplomasi pertahanan, Super Garuda Shield 2026 tidak hanya mengasah kemampuan tempur tetapi juga mempererat hubungan militer antarpeserta. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya common operational procedures yang distandarisasi, seperti penggunaan AJP, untuk menghindari kesalahan fatal saat bekerja sama di medan operasi. Pendekatan building-block juga mengajarkan bahwa kesiapan tempur multinasional tidak bisa dibangun secara instan; diperlukan latihan bertahap mulai dari individu hingga gabungan. Dengan demikian, latihan ini menjadi model bagi operasi multinasional masa depan yang memerlukan keselarasan taktis dan kepercayaan antarsatuan.