Dalam latihan taktis di daerah Cijalu, Garut, Kodam III/Siliwangi menggelar simulasi penyerbuan bunker musuh dengan skema empat fase yang mengedepankan koordinasi antara asap, sniping, dan manuver infantri. Bunker beton bertingkat yang dijaga penembak jitu dan tim mortar menjadi sasaran operasi ini, menguji kemampuan prajurit dalam menembus pertahanan kuat dengan risiko minimal. Artikel ini akan membedah secara detail prosedur yang diterapkan, mulai dari pengintaian hingga pengamanan area, dengan fokus pada teknik dan peralatan yang digunakan.
Fase 1-2: Pengintaian Jarak Jauh dan Pemasangan Layar Asap
Fase pertama dimulai dengan pengintaian jarak jauh menggunakan teropong malam dan drone. Tim intel memetakan setiap firing port (lubang tembak) bunker untuk menentukan titik lemah. Seluruh data posisi musuh dikirimkan ke regu mortir 60 mm yang bersiap di fase kedua. Pada fase ini, regu mortir meluncurkan granat asap putih untuk menciptakan smoke screen setinggi 10 meter di depan bunker. Tujuan dari layar asap ini adalah menutupi pergerakan tim penyerbu dan mengurangi akurasi tembakan lawan. Sementara itu, tim sniping (penembak jitu) mengambil posisi di ketinggian sekitar 200 meter. Mereka menerapkan teknik shoot and scoot—menembak, lalu segera berpindah posisi—untuk mengeliminasi penjaga lubang tembak tanpa terdeteksi balasan tembakan musuh.
- Alat: Teropong malam, drone quadcopter, mortir 60 mm, granat asap putih.
- Teknik sniping: Shoot and scoot (tembak dan pindah) untuk menghindari deteksi.
- Tujuan layar asap: Menutupi pergerakan regu assaulter dan mengacaukan pandangan musuh.
Fase 3-4: Assault Bounding Overwatch dan Room Clearing
Setelah layar asap terbentuk dan sniper berhasil membersihkan beberapa lubang tembak, fase ketiga dimulai. Regu assaulter bergerak maju dalam formasi bounding overwatch, yaitu satu elemen bergerak sementara elemen lain memberikan tembakan perlindungan. Mereka mendekati bunker hingga jarak 50 meter sebelum tim breaching mengambil alih. Dengan menggunakan satchel charge seberat 2 kg C4, mereka meledakkan pintu bunker. Ledakan terkendali ini membuka akses langsung ke dalam bunker. Fase keempat adalah room clearing oleh tim clear. Mereka menerapkan teknik snap to angle, yaitu memutar badan secara cepat ke sudut ruangan untuk memastikan tidak ada musuh yang bersembunyi di dead space. Setelah semua ruangan diyakini aman, latihan diakhiri dengan pengamanan area dan evakuasi amunisi sisa.
- Formasi: Bounding overwatch (dua elemen: penutup dan penyerbu).
- Alat breaching: Satchel charge C4 2 kg.
- Teknik room clearing: Snap to angle (putaran cepat ke sudut mati).
Analisis taktis: Latihan penyerbuan bunker ini menekankan pentingnya sinergi antara penyamaran visual (asap), eliminasi jarak jauh (sniping), dan manuver cepat. Penggunaan smoke screen tidak hanya menghalangi pandangan musuh, tetapi juga memaksa penembak jitu lawan kehilangan target. Sementara itu, teknik shoot and scoot dan snap to angle menunjukkan adaptasi terhadap taktik gerilya yang sering digunakan musuh asimetris. Bagi prajurit Siliwangi, latihan semacam ini membentuk kebiasaan bertempur yang efisien dan mematikan di medan perang modern.