Dalam latihan tempur defensif, Resimen Artileri Medan (Armed) TNI AD mengimplementasikan doktrin defense in depth atau pertahanan berlapis — sebuah skema taktis yang dirancang untuk melelahkan dan menghentikan laju serangan musuh secara progresif. Konsep ini tidak hanya mengandalkan satu posisi bertahan, melainkan serangkaian lapisan pertahanan artileri yang saling terintegrasi, masing-masing dengan fungsi spesifik: dari deteksi awal, tembakan penghambat, hingga serangan balasan. Dengan pendekatan ini, artileri menjadi tulang punggung pertahanan yang mampu memperlambat musuh sebelum mencapai garis depan infanteri. Berikut adalah bedah taktis tiga lapisan utama dalam skema ini.
Tahap 1: Forward Observer dan Interdiction Fire — Lapisan Deteksi dan Penghambatan
Lapisan pertama dalam skema defense in depth dimulai dari posisi pengamat artileri atau Forward Observer (FO) yang ditempatkan jauh di depan garis pertahanan utama. Tugas utama FO adalah mendeteksi kolom musuh sedini mungkin — mengidentifikasi rute pergerakan, formasi, dan kecepatan laju. Begitu kontak terjadi, FO segera mengarahkan tembakan artileri penghambat (interdiction fire) atau tembakan penghancur (destruction fire). Sasaran tembakannya difokuskan pada titik-titik kritis seperti:
- Persimpangan jalan yang memaksa musuh memperlambat laju dan memecah formasi.
- Jembatan atau area penyempitan (choke point) yang membatasi ruang gerak.
- Zona transisi tempat musuh harus mengubah formasi dari kolom menjadi barisan tempur.
Tembakan ini memastikan musuh tidak bisa bergerak bebas dan sudah mengalami tekanan sebelum memasuki zona pertahanan berikutnya. Dengan demikian, lapisan pertama ini berfungsi sebagai posisi bertahan awal yang bersifat mobile dan adaptif.
Tahap 2–3: Supporting Fire Berlapis dan Manuver Displacement
Lapisan kedua adalah posisi baterai artileri utama yang disusun secara berlapis di belakang garis depan infanteri. Setiap baterai menempati posisi bertahan yang saling menopang, mampu memberikan supporting fire untuk satu sama lain. Mereka bekerja berdasarkan rencana tembak yang telah dipersiapkan (pre-planned fire) ke zona-zona kill box yang telah ditentukan — area yang diprediksi menjadi jalur pergerakan musuh. Tembakan ini bertujuan memecah konsentrasi musuh dan memaksanya masuk ke dalam perangkap tembakan silang. Sementara itu, lapisan ketiga adalah baterai cadangan yang siap dimajukan untuk menggantikan posisi yang terdeteksi atau melakukan serangan balasan (counter-battery fire) berdasarkan data radar pengintai artileri. Setiap baterai juga memiliki rencana perpindahan posisi (displacement) secara berkala untuk menghindari deteksi dan serangan balasan musuh. Manuver ini membutuhkan koordinasi ketat antara unit pengintai, komando, dan pelaksana tembak. Berikut rincian alur koordinasinya:
- Radar pengintai mendeteksi titik tembak musuh dan mengirim data ke pusat komando.
- Baterai cadangan melakukan displacement ke posisi baru yang sudah dipetakan sebelumnya.
- Baterai utama tetap memberikan tembakan penekan hingga baterai pengganti siap menembak.
Keberhasilan skema ini sangat bergantung pada komunikasi real-time antara FO, baterai utama, dan cadangan. Pelajaran taktis utama dari latihan ini adalah pentingnya redundansi dan mobilitas dalam posisi bertahan artileri. Doktrin defense in depth mengajarkan bahwa pertahanan tidak boleh kaku; setiap lapisan pertahanan harus mampu bergerak dan beradaptasi dengan perubahan situasi. Bagi penggemar militer, konsep ini mengingatkan pada doktrin artileri Soviet dalam Perang Dunia II yang menggunakan tembakan penghambat dan barisan artileri berlapis untuk menghancurkan serangan Jerman. Bedanya, pada latihan ini penekanan diberikan pada siklus displacement yang lebih cepat dan integrasi radar digital yang memungkinkan respons hampir instan. Kesimpulannya, defense in depth bukan sekadar susunan meriam — ia adalah filosofi tempur yang mengutamakan fleksibilitas, keuletan, dan kerja sama lintas unit.