Pada 27 Agustus 2026, TNI AD melalui Komando Teritorial menggelar latihan Guerrilla Warfare bagi komponen cadangan di Jawa Tengah, mengimplementasikan Doktrin Pertahanan Semesta secara langsung. Latihan ini bukan sekadar ceremonial—ia dirancang untuk membentuk Rakyat Teritorial sebagai elemen inti pertahanan negara, dengan fokus pada teknik penyergapan, pembuatan perangkap lokal, komunikasi kode, serta prosedur gerakan senyap yang dapat diterapkan dalam skenario kontak dengan musuh. Setiap peserta dilatih beroperasi dalam kelompok kecil berjumlah 5–7 orang, bergerak tanpa meninggalkan jejak, dan mampu melakukan break contact secara efisien. Materi ini menegaskan bahwa konsep pertahanan negara harus siap diaktualisasikan, bukan sekadar tertulis dalam dokumen.
Teknik Penyergapan dan Formasi L-Shaped
Penyergapan (ambush) menjadi materi utama latihan, dengan fokus pada formasi L-shaped—konfigurasi yang memungkinkan tembakan silang dari dua arah secara simultan, mempersulit musuh untuk mencari perlindungan. Berikut tahapan pelaksanaannya:
- Penentuan titik penyergapan: Dipilih di tikungan jalan atau celah topografi yang membatasi jarak pandang musuh, memastikan elemen kejutan maksimal.
- Pembagian tim: Terdiri dari tim pukul (posisi depan) dan tim pengapit (posisi samping) yang membentuk sudut 90 derajat, mengunci pergerakan musuh dari dua arah sekaligus.
- Sinyal mulai: Menggunakan kode tangan atau bunyi burung tiruan—tanpa komunikasi radio untuk menghindari intersepsi dan menjaga kerahasiaan operasi.
- Eksekusi: Dimulai dengan tembakan pertama dari tim pukul, disusul tembakan silang dari tim pengapit untuk menciptakan kebingungan taktis dan memutus rantai komando musuh.
Latihan ini menekankan kecepatan reaksi—setiap anggota harus mampu mengambil posisi tembak dalam waktu kurang dari 5 detik setelah sinyal diberikan. Formasi L-shaped dipilih karena efektif mempersulit musuh mencari perlindungan, sekaligus menciptakan tekanan psikologis yang mengganggu koordinasi lawan.
Gerakan Senyap dan Prosedur Break Contact
Pergerakan dalam Guerrilla Warfare menuntut minimalisasi jejak, sehingga peserta dilatih teknik 'step-cover'—setiap 5 langkah maju, personel harus berhenti dan diam di tempat selama 10 detik untuk mendeteksi suara atau gerakan mencurigakan di sekitar. Langkah ini diulang secara bergiliran oleh setiap anggota kelompok, sehingga kelompok bergerak seperti satu kesatuan yang tersinkronis. Prosedur break contact disimulasikan dengan tahapan berikut:
- Tahap 1 – Pelepasan kontak: Anggota yang paling dekat dengan musuh melepaskan tembakan penutup (2-3 butir) sambil mundur ke posisi aman, memutus kontak tembak tanpa memberi kesempatan musuh membalas.
- Tahap 2 – Formasi mundur: Kelompok membentuk formasi baji terbalik (reverse wedge) agar seluruh anggota tetap saling melindungi, memastikan tidak ada celah yang dieksploitasi musuh.
- Tahap 3 – Menghilangkan jejak: Setelah menjauh 50 meter, anggota menyebar dan menghapus jejak kaki dengan ranting atau daun, lalu berkumpul di titik kumpul alternatif yang telah ditentukan sebelumnya.
Selain itu, peserta dilatih membuat booby trap dari bahan lokal—misalnya kaleng bekas berisi batu yang diikat dengan tali pancing sebagai alat peringatan dini. Komunikasi menggunakan gelombang radio pendek dengan kode sederhana (sandi angka-angka spesifik untuk setiap manuver) memastikan informasi tetap rahasia meskipun intersepsi terjadi. Latihan ini membuktikan bahwa Doktrin Pertahanan Semesta bukan sekadar konsep—ia diwujudkan melalui latihan sistematis yang mengubah Rakyat Teritorial menjadi aset tempur yang adaptif dan sulit dilacak.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: Keberhasilan Guerrilla Warfare bergantung pada disiplin tinggi dalam setiap fase, mulai dari perencanaan penyergapan hingga eksekusi break contact. Tanpa penguasaan teknik dasar—seperti formasi L-shaped dan prosedur menghilangkan jejak —gerilyawan hanya akan menjadi target empuk. Latihan ini menegaskan bahwa Doktrin Pertahanan Semesta membutuhkan latihan berulang untuk menciptakan refleks taktis yang mampu beradaptasi dengan medan tempur dinamis.