TNI Angkatan Udara baru saja menyelesaikan uji coba doktrin pertempuran udara jarak dekat (dogfight) di wilayah latihan Natuna pada 10 September 2026. Uji coba ini menggunakan dua platform andalan, F-16 Fighting Falcon dan Su-27 Flanker, untuk mengintegrasikan manuver off-boresight dengan dukungan radar darat dan peringatan udara (airborne warning). Tidak seperti latihan biasa, skenario ini dirancang secara instruksional — setiap fase dieksekusi berdasarkan prosedur yang akan menjadi acuan revisi Buku Petunjuk Pertempuran Udara TNI AU. Berikut bedah taktis dari simulasi tersebut.
Tahapan Manuver: Dari Pengintaian hingga Vertical Scissors
Prosedur dimulai dengan pengintaian area oleh pesawat AWACS yang memberikan data situasi secara real-time kepada pilot kedua pesawat. Setelah kontak radar terjalin antara F-16 dan Su-27, kedua pesawat melakukan manuver standar split-S untuk mengubah ketinggian dan arah secara tiba-tiba, diikuti dengan vertical scissors untuk merebut posisi menguntungkan di belakang lawan. Tahapan ini dirinci sebagai berikut:
- Fase 1 – Pengintaian AWACS: Data posisi, kecepatan, dan arah lawan dikirimkan ke kokpit pilot.
- Fase 2 – Kontak Radar: Pilot mengonfirmasi target dan memutuskan manuver awal, umumnya split-S untuk memutus garis bidik lawan.
- Fase 3 – Vertical Scissors: Kedua pesawat saling memotong lintasan vertikal; F-16 mengandalkan kecepatan sudut tinggi, Su-27 memanfaatkan thrust-vectoring untuk radius putar lebih kecil.
- Fase 4 – Lock-On dan Simulasi Tembak: F-16 menggunakan high-off-boresight missile lock untuk mengunci target di luar sumbu pesawat, sementara Su-27 mengandalkan nozzle vektor untuk manuver tajam dan lock-on cepat.
Setiap fase dievaluasi oleh tim intelijen udara yang mencatat waktu, sudut, dan respons pilot. Hasil evaluasi ini akan menjadi masukan koreksi taktik dalam buku petunjuk resmi.
Keunggulan Masing-Masing Pesawat dalam Dogfight Modern
Dalam uji coba ini, perbedaan karakteristik F-16 dan Su-27 sengaja dieksploitasi. F-16 Fighting Falcon, dengan rasio dorong-berat tinggi, unggul dalam high-off-boresight missile lock berkat helm penunjuk sasaran (JHMCS) dan rudal AIM-9X yang mampu mengenai target di luar sudut pandang hidung pesawat. Sementara itu, Su-27 Flanker mengandalkan thrust-vectoring (TV) untuk melakukan manuver tajam seperti cobra dan kulbit, yang memungkinkannya memutar pesawat dalam radius sangat kecil tanpa kehilangan energi. Tim intelijen mencatat bahwa integrasi kedua kemampuan ini — off-boresight dari F-16 dan TV dari Su-27 — membutuhkan koordinasi data dari radar darat dan AWACS agar pilot tidak kehilangan kesadaran situasional saat bermanuver agresif.
Hasil uji coba menunjukkan bahwa doktrin pertempuran udara jarak dekat TNI AU perlu menekankan pentingnya battle management berbasis data dari udara. Tanpa dukungan AWACS, manuver off-boresight dan thrust-vectoring bisa gagal karena pilot buta terhadap ancaman di luar sumbu. Revisi Buku Petunjuk Pertempuran Udara akan memasukkan prosedur baru untuk sinkronisasi antara sensor darat, AWACS, dan sistem penampil helm pilot.
Analisis Taktis: Uji coba ini mengajarkan bahwa dogfight modern bukan lagi duel satu lawan satu secara tradisional, melainkan perpaduan data intelijen, sensor off-boresight, dan manuver energi tinggi. Bagi penggemar militer, pelajaran utama adalah perlunya memahami hierarchy of kills — dari pengintaian, lock-on, hingga eksekusi manuver — yang membutuhkan pelatihan berulang seperti yang dilakukan TNI AU di Natuna.