Simulasi dogfight yang digelar TNI AU di Lanud Iswahjudi, Madiun, bukan sekadar latihan terbang biasa. Latihan ini dirancang untuk menguji kemampuan manuver jarak dekat antara dua kekuatan tempur utama: F-16 Fighting Falcon dari Skuadron Udara 3 dan Sukhoi Su-30 Flanker dari Skuadron Udara 11. Setiap tahapan, mulai dari briefing hingga debriefing, mengikuti prosedur taktis yang ketat untuk mensimulasikan skenario pertempuran udara nyata.
Tahapan Latihan: Dari Briefing hingga Take-Off Formasi V
Latihan dimulai dengan briefing di ruang intelijen untuk menentukan skenario serangan. Setiap pilot diberikan data target berupa koordinat musuh palsu yang disimulasikan oleh radar darat. Prosedur ini memastikan setiap awak pesawat memahami medan tempur dan ancaman yang akan dihadapi. Berikut tahapan selanjutnya:
- Take-off formasi V dengan jarak antar pesawat 30 meter. Formasi ini memungkinkan saling pengawasan visual dan mengurangi jejak radar musuh.
- Setelah mencapai ketinggian 10.000 kaki, pilot beralih ke mode radar Beyond Visual Range (BVR) untuk mendeteksi ancaman dari jarak jauh. Pada fase ini, radar dioptimalkan untuk mencari kontak musuh di udara.
- Ketika jarak dengan musuh mencapai 20 mil, pilot melakukan manuver notch — teknik menghindari radar lawan dengan cara terbang tegak lurus terhadap arah pancaran radar musuh, sehingga sulit dideteksi.
Manuver notch menjadi krusial untuk mendekati target tanpa terdeteksi lebih awal. Setelah itu, pesawat memasuki fase dogfight pada jarak 5 mil.
Fase Dogfight: Manuver Tingkat Tinggi dan Analisis Taktis
Pada jarak 5 mil, pertempuran udara jarak dekat dimulai. Pilot menggunakan teknik high-G turn dan energy management untuk mendapatkan posisi tembak. Sukhoi Su-30 unggul dalam manuver vertikal berkat engine thrust-to-weight ratio yang tinggi, memungkinkannya melakukan climb tajam dan turn cepat di sumbu vertikal. Sementara itu, F-16 memanfaatkan radius belok yang rapat — kemampuan berputar ketat di bidang horizontal — untuk mengunci lawan dari sisi buta. Setiap manuver dihitung berdasarkan prinsip energy-maneuverability: pilot harus menjaga kecepatan dan ketinggian agar tidak kehilangan energi yang diperlukan untuk manuver berikutnya.
Setelah kembali ke pangkalan, dilakukan debriefing menggunakan rekaman onboard camera untuk mengevaluasi taktik masing-masing pilot. Pelajaran taktis yang bisa dipetik: dalam simulasi dogfight, kunci kemenangan bukan hanya kemampuan pesawat, tetapi juga pemahaman pilot terhadap energi, posisi, dan timing. Koordinasi antara dua skuadron tempur ini juga menunjukkan kesiapan operasional TNI AU dalam menghadapi ancaman udara modern.