Pada 18 Oktober 2026, TNI AL menggelar uji coba sistem sonar array baru yang dipasang pada KRI Bung Tomo di perairan Selat Malaka. Fokus utama uji coba ini adalah kemampuan deteksi kapal selam pada kedalaman 200 meter dengan tingkat kebisingan rendah. Prosedur dimulai dengan sweeping area menggunakan sonar aktif mode frekuensi rendah (LF) untuk menembus lapisan termoklin — lapisan pembatas suhu yang sering menjadi penghalang utama dalam operasi sonar di perairan tropis. Ini menjadi langkah kunci dalam skema taktis deteksi di lingkungan perairan dangkal yang penuh gangguan akustik seperti Selat Malaka.
Tahapan Prosedural Uji Coba Sonar LF
Secara instruksional, uji coba ini dirancang sebagai prosedur deteksi kapal selam secara berurutan. Setiap tahapan memiliki peran spesifik dalam membangun gambaran kontak yang akurat. Berikut adalah tahapan utama yang dilakukan:
- Sweeping area menggunakan sonar aktif mode LF — tahap awal untuk memetakan lapisan termoklin dan mencari kontak potensial di bawah permukaan.
- Perekaman data sonar secara kontinu — saat KRI Bung Tomo bergerak dalam pola tertentu untuk memperoleh cakupan maksimal dan menghindari celah deteksi.
- Analisis data dengan perangkat lunak pengklasifikasi sinyal — perangkat ini mampu membedakan noise biologis dari sinyal mekanis, sehingga mengurangi false contact.
- Verifikasi target latihan — melibatkan kapal selam yang disewa dari Australia sebagai target untuk mengukur akurasi deteksi pada kedalaman 200 meter.
Pemilihan mode LF pada tahap awal bukan tanpa pertimbangan. Gelombang frekuensi rendah memiliki penetrasi yang lebih baik saat menembus lapisan termoklin, sehingga kontak di bawah lapisan tersebut masih dapat terdeteksi. Ini menjadi kunci dalam menghadapi kapal selam yang beroperasi dengan tingkat kebisingan rendah, karena mereka mengandalkan kemampuan sembunyi untuk mendekat tanpa terdeteksi.
Analisis Taktis: Dari Deteksi Menuju Engagement
Hasil sementara uji coba menunjukkan peningkatan jarak deteksi sebesar 30% dibandingkan sistem lama. Dalam konteks Selat Malaka yang sempit dan ramai, penambahan jarak deteksi ini memberikan keuntungan signifikan dalam hal waktu reaksi. Semakin awal kontak diketahui, semakin besar ruang manuver yang dimiliki kapal untuk menghindar maupun menyiapkan serangan.
Ke depannya, sistem sonar ini akan diintegrasikan dengan torpedo ringan untuk mempercepat respons. Integrasi ini mengubah peran sonar dari sekadar peralatan deteksi menjadi komponen utama dalam sistem penembakan. Dengan kata lain, data yang dihasilkan sonar dapat langsung menjadi referensi penembakan tanpa melalui banyak lapisan koordinasi. Ini mempersingkat siklus detect-to-engage yang sangat penting dalam perang anti kapal selam modern. Keterlibatan kapal selam yang disewa dari Australia sebagai target latihan memberikan skenario yang realistis, memaksa awak KRI Bung Tomo untuk bekerja dengan emisi akustik yang mendekati kondisi nyata.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik: kemampuan deteksi dini di perairan sempit seperti Selat Malaka bukan hanya soal teknologi sonar, tetapi juga prosedur operasi yang terstruktur dan latihan realistis. Kombinasi mode LF, analisis sinyal cerdas, dan integrasi sistem senjata menjadi kunci untuk mengalahkan ancaman kapal selam silent. TNI AL menunjukkan komitmen untuk terus meningkatkan kapabilitas deteksi bawah air, sejalan dengan dinamika ancaman di kawasan.