TNI Angkatan Laut menggelar latihan tempur khusus 'Maritim Kencana 2026' di Laut Jawa Utara, dengan fokus utama membedah dan mematangkan prosedur taktis manuver anti-kapal selam terintegrasi. Latihan ini dirancang secara instruksional, mulai dari fase deteksi hingga serangan simulasi, untuk menguji respons operasional satuan permukaan terhadap ancaman bawah air.
Fase Deteksi & Formasi Hunter-Killer Group
Operasi dimulai dengan fase Search and Detection menggunakan kombinasi sensor untuk membangun gambar situasional. TNI AL mengerahkan kapal-kapal perang utama dalam formasi taktis yang disesuaikan untuk misi anti-kapal selam. Elemen deteksi kunci meliputi:
- Sonar Aktif dan Pasif dari fregat, beroperasi sebagai stasiun sonar utama.
- Dukungan udara dari Maritime Patrol Aircraft (MPA) Boeing 737-200 Surveiller untuk cakupan area luas dan cueing awal.
- Unit Komando: Satu fregat berperan sebagai flagship, mengoordinasi seluruh manuver dan analisis data sonar.
- Unit Penyerang: Dua korvet diposisikan sebagai elemen serang utama.
- Formasi Tempur: Kapal-kapal bermanuver dalam formasi 'Line Abreast' dengan jarak antar kapal sekitar 5 mil laut. Formasi ini dipilih untuk memaksimalkan cakupan area pencarian sonar dan mengurangi zona bayang (shadow zone).
Prosedur Serangan Simulasi & Teknik Penghindaran
Setelah kontak sonar dikonfirmasi, grup memasuki prosedur 'Localization and Classification' selama 30 menit untuk memastikan identifikasi target sebelum otorisasi serangan diberikan oleh komandan grup. Serangan simulasi kemudian dilaksanakan menggunakan dua metode terkoordinasi untuk meningkatkan probabilitas kill:
- Serangan Torpedo Kapal: Korvet melaksanakan manuver serang dengan meluncurkan torpedo berpandu ringan dari tabung 324mm. Pola serangan yang diterapkan adalah 'Creeping Attack', di mana torpedo diluncurkan pada jarak menengah dan bermanuver mendekati target secara diam-diam untuk menghindari deteksi dini oleh kapal selam musuh.
- Serangan Udara Terintegrasi: Helikopter anti-kapal selam yang dioperasikan dari dek fregat diterbangkan. Manuver helikopter meliputi penempatan sonobuoy untuk pemetaan akustik lanjutan dan peluncuran torpedo udara sebagai serangan pukulan kedua atau finishing blow.
Latihan tidak berhenti pada saat serangan. Fase akhir adalah 'Post-Attack Assessment' untuk mengevaluasi hasil simulasi, diikuti langsung dengan manuver penghindaran dari kemungkinan serangan balasan. Kapal-kapal dalam grup langsung bermanuver dengan teknik 'Zig-Zag High-Speed Sailing'. Teknik ini bertujuan untuk menyulitkan kapal selam yang mungkin selamat dalam menentukan solusi tembak balik, dengan mengubah arah dan kecepatan secara tidak terduga.
Dari rangkaian latihan 'Maritim Kencana 2026', terlihat pola taktis TNI AL yang mengedepankan integrasi multi-platform (permukaan-udara) dan prosedur berlapis. Pelajaran penting yang dapat dipetik adalah efektivitas operasi anti-kapal selam sangat bergantung pada kecepatan transisi dari fase deteksi ke fase serang, serta disiplin dalam eksekusi manuver penghindaran pasca-serangan untuk mempertahankan survivabilitas satuan sendiri.