Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
BEDAH TAKTIK

Delegasi TNI AL Tinjau Prosedur dan Skala Komando dalam Latihan Maritim RIMPAC 2026

Delegasi TNI AL melakukan observasi mendalam terhadap struktur komando CFMCC dan integrasi unsur tempur dalam latihan multinasional RIMPAC 2026. Fokus pembelajaran mencakup prosedur pertukaran data Link-16/22, pencegahan insiden dengan CUES, serta simulasi skenario ASW, pertahanan udara, dan amfibi. Hasil observasi ini menjadi bahan kritis untuk pengembangan doktrin dan kemampuan interoperabilitas TNI AL dalam operasi gabungan skala besar.

Delegasi TNI AL Tinjau Prosedur dan Skala Komando dalam Latihan Maritim RIMPAC 2026

Observasi taktis delegasi TNI AL dalam latihan RIMPAC 2026 merupakan studi mendalam tentang mekanisme komando dan kendali (C2) dalam operasi gabungan skala besar. Dipimpin oleh Danpasmar 2, Mayor Jenderal TNI Oni Junianto, fokus utama adalah membedah arsitektur komando Combined Force Maritime Component Commander (CFMCC) yang mengintegrasikan 30 kapal perang, 5 kapal selam, dan lebih dari 190 pesawat dari 30 negara sekutu ke dalam satu jaringan tempur yang koheren. Prosedur standar yang diobservasi, mulai dari perencanaan operasi di tingkat komponen maritim hingga eksekusi skenario kompleks, memberikan blueprint berharga bagi pengembangan interoperabilitas TNI AL.

Skema Komando dan Kendali (C2) Terpadu di CFMCC

Inti pembelajaran dalam observasi delegasi TNI AL adalah mempelajari hierarki dan kelenturan struktur komando gabungan di pusat CFMCC. Dalam latihan RIMPAC, skema C2 dirancang untuk mengelola konflik potensial, memastikan unity of effort, dan mengoptimalkan pemanfaatan aset multinasional. Delegasi menyaksikan alur kerja terstruktur dimana berbagai unsur tempursurface action group, submarine force, dan air wing—diintegrasikan ke dalam satu papan kendali operasional (common operational picture). Proses integrasi ini mengikuti prosedur kunci yang dapat ditiru:

  • Perencanaan Operasi Terpadu: Tahap awal melibatkan sinkronisasi tujuan misi, penentuan rules of engagement (ROE) bersama, dan alokasi wilayah operasi (area of responsibility) untuk setiap satuan gabungan.
  • Pertukaran Data Taktis Real-time: Delegasi mengamati langsung implementasi jaringan Link-16/22 untuk berbagi informasi target, posisi, dan identifikasi (Identification Friend or Foe/IFF) secara aman dan cepat antar platform.
  • Protokol Komunikasi dan Pencegahan Insiden: Penerapan Code for Unplanned Encounters at Sea (CUES) dan standar prosedur komunikasi bersama (common voice procedures) untuk meminimalisir risiko salah komunikasi atau konflik tak disengaja di tengah kerumunan kapal dan pesawat.

Bedah Skenario Tempur Simulasi RIMPAC 2026

Delegasi TNI AL menyaksikan langsung eksekusi beberapa fase latihan kunci yang mensimulasikan tantangan maritim kontemporer. Setiap skenario dirancang untuk menguji respons dan koordinasi kekuatan gabungan dalam kondisi tekanan tinggi. Tiga skenario utama yang menjadi fokus observasi adalah:

  • Peperangan Anti-Kapal Selam (ASW): Skenario ini menguji integrasi data dari pesawat patroli maritim (Maritime Patrol Aircraft/MPA), kapal permukaan yang dilengkapi sonar, dan kapal selam sendiri untuk melacak, mengidentifikasi, dan mengunci target kapal selam “musuh” dalam suatu ASW prosecution area.
  • Pertahanan Udara Berlapis Armada (Fleet Air Defense): Simulasi ini mempraktikkan pembagian zona tanggap (defense sectors) antara kapal perang dengan sistem Aegis dan rudal jarak menengah, serta pesawat tempur yang menyediakan perlindungan udara jarak dekat (Combat Air Patrol/CAP), menciptakan gelembung pertahanan udara terintegrasi.
  • Operasi Pendaratan Amfibi: Delegasi mengamati koordinasi antara Amphibious Ready Group (ARG) dan Marine Expeditionary Unit (MEU) dalam mendukung pendaratan pasukan. Tahapan yang diamati mencakup penyiapan beachhead, dukungan tembakan naval gunfire, dan pengaturan lalu lintas udara serta permukaan di zona pendaratan.

Pengetahuan mendalam tentang prosedur standar NATO dan koalisi yang diterapkan dalam setiap skenario RIMPAC 2026 menjadi aset strategis bagi TNI AL. Observasi ini bukan sekadar kunjungan seremonial, tetapi merupakan langkah taktis untuk mengumpulkan data operasional dalam menyusun doktrin interoperabilitas sendiri. Pelajaran tentang alur C2 yang fleksibel, pertukaran data via Link-16/22, dan manajemen risiko melalui CUES dapat diadaptasi untuk meningkatkan efektivitas partisipasi Indonesia dalam latihan maritim multinasional masa depan dan operasi keamanan maritim regional.

ENTITAS TERDETEKSI
Orang: Oni Junianto
Organisasi: TNI AL, Danpasmar 2, RIMPAC, NATO
Lokasi: Hawaii