Latihan pendaratan amfibi dalam rangka Latgabma Keris Woomera 2026 di Pantai Banongan, Situbondo, langsung memasuki fase kritis sejak awal. Prosedur dimulai dengan infiltrasi bawah air yang dilakukan oleh tim gabungan Kopaska TNI AL, Taifib Marinir, dan pengintai dari Australian Defence Force (ADF). Mereka menyelam dan melakukan renang taktis dari kapal induk HMAS Choules menuju pantai target dengan peralatan lengkap. Tugas utama tim infiltrasi adalah membersihkan ranjau dan mengamankan zona pendaratan (beachhead) sebelum gelombang utama tiba. Fase ini menuntut koordinasi ketat lintas unsur dan kesiapan navigasi bawah air yang presisi—sebuah simulasi pendaratan amfibi yang realistis.
Fase Infiltrasi dan Pembersihan Zona Pendaratan
Setelah tim infiltrasi berhasil membersihkan rintangan darat dan laut, kendali pendaratan beralih ke unsur pendukung udara. Close Air Support (CAS) diterbangkan oleh pesawat Super Tucano TNI AU dan PC-21 ADF untuk menekan pertahanan musuh yang disimulasikan di sekitar pantai. Langkah ini memastikan bahwa area pendaratan aman dari ancaman tembakan langsung sebelum pasukan utama tiba. Prosesnya meliputi:
- Pemetaan zona pendaratan oleh tim pengintai ADF dan Kopaska untuk memastikan tidak ada jebakan musuh.
- Penetapan jalur masuk (approach lane) bagi pasukan pendarat agar terhindar dari ranjau dan rintangan.
- Pelaksanaan tembakan penekan (suppressive fire) selama 10 menit dari udara untuk melumpuhkan titik pertahanan musuh.
Dengan selesainya fase infiltrasi dan pembersihan, komandan pendaratan memberikan sinyal 'zona aman' yang menjadi awal pendaratan pasukan utama.
Pendaratan Bertahap: Tiga Gelombang Serangan
Pendaratan pasukan utama dilaksanakan dalam tiga gelombang terstruktur yang dirancang untuk memaksimalkan daya kejut dan efisiensi logistik. Gelombang pertama menggunakan perahu karet (rubber raiding craft) yang membawa pasukan infanteri ringan dari Marinir dan ADF. Mereka bertugas mengamankan garis pantai dan membuka koridor bagi gelombang berikutnya. Gelombang kedua merupakan pengiriman pasukan dan perlengkapan tambahan melalui kapal pendarat (landing craft) yang lebih besar, termasuk panser ringan dan amunisi. Gelombang ketiga menjadi ujung tombak logistik dengan ponton pengangkut kendaraan tempur berat serta perbekalan logistik jangka panjang. Setiap gelombang memiliki tenggat waktu (timeline) yang ketat untuk menjaga momentum serangan. Proses ini merupakan praktik standar dalam setiap latihan gabungan pendaratan amfibi antara TNI dan ADF.
Setelah mendarat, pasukan Marinir dan ADF langsung membentuk formasi serang untuk merebut sasaran A (pos komando musuh) dan sasaran B (gudang logistik simulasi). Tahap akhir adalah konsolidasi pasukan di area yang telah direbut, dilanjutkan dengan pembentukan perimeter pertahanan yang kokoh. Latihan ini tidak hanya menguji kemampuan tempur, tetapi juga menekankan pada sinkronisasi prosedur taktis antara kedua negara. Koordinasi waktu (timing), komunikasi lintas unsur (udara, laut, darat), dan pengendalian tembakan pendukung menjadi fokus utama latihan. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya fleksibilitas dalam perencanaan pendaratan amfibi, terutama saat berhadapan dengan kondisi medan yang tidak diprediksi. Setiap gerakan, mulai dari infiltrasi hingga pendaratan gelombang utama, harus terintegrasi dalam satu irama operasi yang solid.