Dalam simulasi pertempuran jarak dekat di hutan Rimba Raya, Kalimantan Tengah, Batalyon Infanteri 700 menunjukkan penguasaan taktik flanking yang efektif untuk menghadapi kontak tembak jarak 50 meter. Latihan yang digelar pada 17 Oktober 2026 ini mengasah kemampuan fire and movement di vegetasi rapat, di mana pasukan dibagi menjadi Tim Alfa (penyerang) dan Tim Bravo (bertahan). Alih-alih melakukan serangan frontal yang berisiko tinggi, Tim Alfa menerapkan manuver penjepitan dengan membagi regu menjadi unsur penekan dan unsur manuver, sebuah doktrin klasik yang tetap relevan dalam pertempuran jarak dekat di hutan.
Skema Manuver: Regu Penekan dan Regu Sapu dalam Pertempuran Jarak Dekat
Dalam skema flanking yang dilatihkan, Regu 1 Tim Alfa bertindak sebagai unsur penekan. Dengan menggunakan senapan serbu bermagasin 30 butir, setiap personel Regu 1 melepaskan tembakan burst 3–5 butir secara bergantian ke arah pertahanan Tim Bravo. Tujuan utama tembakan penekan ini bukanlah untuk mengenai sasaran secara langsung, melainkan untuk mengikat perhatian dan tembakan balasan musuh, sehingga Regu 2 dapat bergerak tanpa terdeteksi. Disiplin tembakan ini penting untuk menghemat amunisi dan menjaga tekanan psikologis pada lawan.
Sementara itu, Regu 2 melaksanakan manuver melingkar dengan langkah-langkah berikut:
- Bergerak melalui jalur sungai kering di sisi kiri area kontak dengan posisi setengah membungkuk.
- Menjaga jarak antarpersonel 5 meter untuk mengurangi risiko korban massal dari satu serangan.
- Memanfaatkan sungai kering sebagai jalur pendekatan yang terlindung dan tidak terduga.
- Setelah mencapai posisi sayap, melepaskan granat asap sebagai sinyal visual kepada Regu 1.
- Granat asap mengaburkan pandangan musuh dan menjadi aba-aba bagi Regu 1 untuk menghentikan tembakan penekan dan bersiap maju.
- Regu 2 melancarkan serangan mendadak dari sisi kiri pertahanan Bravo, sementara Regu 1 maju membersihkan sisa perlawanan.
Faktor Penentu: Ketepatan Waktu, Komunikasi, dan Evaluasi Pasca-Simulasi
Keseluruhan manuver flanking ditargetkan selesai dalam waktu tujuh menit sejak kontak pertama. Waktu ini menjadi tolok ukur kemampuan koordinasi antarregu dan kecepatan pergerakan di medan berat. Setelah simulasi, setiap anggota dievaluasi berdasarkan tiga parameter utama:
- Akurasi tembakan: seberapa efektif tembakan penekan dan serangan dari regu sapu.
- Kecepatan manuver: waktu tempuh regu sapu mencapai posisi sayap.
- Komunikasi radio: ketepatan pemberian kode dan sinyal, termasuk sinyal granat asap.
Aspek komunikasi menjadi krusial karena dalam vegetasi rapat, kontak visual terbatas dan koordinasi sangat bergantung pada radio dan sinyal asap. Granat asap tidak hanya berfungsi sebagai pengabur pandangan, tetapi juga sebagai sinyal sinkronisasi antara kedua regu.
Dari simulasi ini, tergambar jelas bahwa taktik flanking bukan sekadar manuver klasik, tetapi memerlukan disiplin tinggi dan pemahaman medan. Keputusan menggunakan jalur sungai kering sebagai jalur manuver menunjukkan pentingnya membaca kontur medan untuk mendapatkan kejutan. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah dalam pertempuran jarak dekat di hutan, pasukan penyerang harus mampu membagi peran antara tembakan penekan yang efektif dan pergerakan cepat unsur sapu. Tanpa koordinasi yang sinkron, flanking bisa berubah menjadi baku tembak yang merugikan. Latihan seperti ini membuktikan bahwa penguasaan dasar-dasar taktik infantri tetap menjadi fondasi utama dalam operasi militer di segala medan.