Pada tanggal 7 September 2026, TNI AD menggelar latihan taktis penerobosan pertahanan lawan dengan menerapkan formasi baji di Puslatpur Baturaja. Latihan ini dirancang untuk menguji kemampuan prajurit dalam menembus titik lemah pertahanan musuh secara terstruktur. Formasi baji, yang merupakan formasi dasar serangan infanteri, digunakan karena kemampuannya memusatkan kekuatan pada satu sektor kritis lawan, sehingga memaksimalkan daya dobrak sekaligus meminimalkan risiko dari serangan balik.
Tahapan Penerobosan: Dari Pengintaian hingga Penghancuran
Latihan dimulai dengan fase pengintaian posisi musuh menggunakan drone taktis, yang memungkinkan komandan sektor mengidentifikasi titik lemah pertahanan lawan. Setelah itu, unsur pemukul utama ditempatkan di puncak baji—sektor depan yang menjadi ujung tombak serangan. Satu peleton infanteri dengan senjata berat seperti SS2-V4 dan pelontar granat ditempatkan di posisi ini. Langkah kedua, sayap kiri dan kanan baji diisi oleh unit penekan yang bertugas menghambat bantuan musuh dari samping, menggunakan senapan mesin ringan dan mortir 60 mm untuk menekan pergerakan lawan. Setelah penembakan persiapan oleh mortir 81 mm, pasukan baji maju bergelombang dengan jarak antar prajurit 5 meter—teknik ini mengurangi dampak tembakan senjata musuh karena menghindari konsentrasi personel di satu titik. Kopral pengecoh di bagian belakang baji bertugas memotong jalur mundur musuh setelah pertahanan berhasil ditembus.
Formasi Baji: Rincian Posisi dan Taktik
- Puncak baji (sektor depan): Satu peleton infanteri dengan senjata berat, bertugas sebagai pemukul utama yang langsung menembus garis pertahanan musuh.
- Sayap kiri dan kanan: Unit penekan dengan senapan mesin ringan dan mortir, berfungsi mengamankan sisi dari serangan musuh dan menghambat bantuan.
- Bagian belakang: Kopral pengecoh yang bergerak setelah gelombang depan, memotong jalur mundur musuh dan mengamankan rute mundur pasukan sendiri.
- Jarak antar prajurit: 5 meter untuk mengurangi efek tembakan musuh dan memudahkan koordinasi manuver.
Evaluasi dan Pelajaran Taktis dari Latihan
Latihan ini disimulasikan di area seluas 500 meter persegi dengan durasi 3 jam. Evaluasi dilakukan oleh Danpuslatpur yang menekankan pentingnya koordinasi radio antar komandan sektor. Dalam latihan taktis penerobosan seperti ini, komunikasi yang cepat dan akurat menjadi kunci keberhasilan, terutama saat unit penekan harus berkoordinasi dengan puncak baji untuk menghindari tembakan ramah. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa formasi baji sangat efektif untuk menerobos pertahanan musuh yang memiliki titik lemah jelas, namun membutuhkan disiplin tinggi dalam menjaga formasi dan jarak. Penggunaan drone taktis untuk pengintaian juga terbukti vital dalam menentukan titik puncak baji yang tepat. Latihan ini menunjukkan kesiapan TNI AD dalam mengaplikasikan doktrin serangan klasik yang disesuaikan dengan teknologi modern.