Latihan bantuan tembakan (fire support) oleh Artileri Medan 1 Kostrad baru-baru ini digelar di daerah latihan Cibenda dengan skema brigade attack. Latihan ini bertujuan mengoordinasikan tembakan howitzer M109A5 dengan manuver infanteri secara presisi dan cepat. Dalam simulasi ini, seluruh prosedur bantuan tembakan dijalankan secara ketat untuk menciptakan efek kejutan yang maksimal terhadap sasaran musuh.
Prosedur Bantuan Tembakan: Dari Forward Observer hingga Howitzer
Langkah pertama dalam bantuan tembakan dimulai dari Forward Observer (FO) yang berada di garis depan. FO menetapkan target koordinat menggunakan laser rangefinder untuk mendapatkan data jarak dan azimuth yang akurat. Data ini dikirimkan ke Battery Command Post (BCP) yang kemudian mengkalkulasi azimuth dan elevasi yang dibutuhkan oleh howitzer M109A5. Dalam waktu kurang dari 3 menit, tembakan pertama jatuh pada titik sasaran dengan rentang kesalahan hanya 5 meter. Setelah tembakan pertama, FO melaporkan koreksi angin dan suhu untuk tembakan berikutnya guna meninkatkan akurasi.
Secara rinci, tahapan prose dur bantuan tembakan ini meliputi:
- Forward Observer mendeteksi dan menetapkan koordinat target menggunakan laser rangefinder.
- Data target dikirim ke Battery Command Post untuk kalkulasi balistik.
- BCP mengirimkan data azimuth dan elevasi ke masing-masing howitzer.
- Howitzer M109A5 melaksanakan tembakan dengan amunisi yang sesuai.
- Koreksi dari FO terhadap efek tembakan dan kondisi lingkungan diintegrasikan untuk tembakan berikutnya.
Time on Target: Akurasi dan Sinkronisasi dalam 15 Menit
Latihan ini menggunakan metode Time on Target (TOT) di mana tiga howitzer menembak sacara simultan pada target berbeda. Dengan cara ini, seluruh target dapat dihancurkan dalam waktu 15 menit persiapan tembakan. Hasil simulasi menunjukkan keberhasilan 100% pada penghancuran sasaran. Namun, kelemahan ditemukan pada komunikasi radio yang kadang terputus akibat medan berbukit di Cibenda. Oleh karena itu, direncanakan penggunaan drone sebagai repeater untuk menstabilkan jalur komunikasi antara FO, BCP, dan unit howitzer.
Pelakasanaan metode TOT ini menuntut sinkronisasi waktu yang ketat antara ketiga howitzer. Setiap howitzer telah diprogam dengan waktu tembakan yang sama persis, sehingga tembakan jatuh bersamaan di atas sasaran. Hal ini menciptakan efek kejutan dan tekanan psikologis bagi musuh, serta memudahkan pasukan infanteri untuk maju melakukan serangan.
Analisis taktis dari latihan ini menunjukan bahwa integrasi teknologi drone sebagai repeater komunikasi dapat menjadi solusi atas kendala medan. Dengan adanya drone, jalu komunikasi data target dan koreksi tembakan menjadi lebih stabil, sehingga bantuan tembakan dapat terus berlangsung tanpa interupsi. Pelajaran berharga bagi pasukan artileri adalah perlunya antisipasi terhadap kondisi medan serta pengembangan alat bantu komunikasi alternatif untuk menjaga efekifitas fire support dalam setiap skema pertempuran.