Pada 26 Agustus 2026, TNI AU menggelar simulasi Target Acquisition di Makassar yang menyatukan dua platform intelijen udara: Drone CH-4 dan pesawat NC-212. Simulasi ini dirancang untuk melatih alur deteksi, verifikasi, dan transmisi koordinat sasaran secara real-time guna mendukung tembakan artileri. Prosedur dilatih secara bertahap, mulai dari penerbangan endurance drone hingga komunikasi HF dengan unsur darat. Berikut rincian skema taktis yang dijalankan.
Tahapan Simulasi Pengintaian dan Verifikasi Sasaran
Simulasi dimulai dengan penerbangan Drone CH-4 pada ketinggian 4.000 meter dalam mode endurance selama 6 jam. Drone ini membawa muatan sensor thermal dan radar untuk memindai area potensial. Data deteksi dikirim secara real-time ke NC-212 yang berfungsi sebagai command post bergerak. Setelah drone menemukan indikasi target, tahap verifikasi dilakukan oleh NC-212 menggunakan kamera LOROP (Long Range Oblique Photography). Prosedur ini terdiri dari tiga tahapan utama:
- Tahap 1 – Deteksi: Drone CH-4 melakukan patroli udara, merekam citra thermal dan radar. Data mentah langsung dikirim ke NC-212.
- Tahap 2 – Verifikasi: Awak NC-212 menganalisis citra LOROP untuk memastikan apakah objek yang terdeteksi merupakan target valid (misalnya, kendaraan atau posisi musuh).
- Tahap 3 – Transmisi Koordinat: Setelah target dikonfirmasi, koordinat geografis dikirim ke artileri melalui radio HF, memungkinkan respons tembakan cepat dan akurat.
Peran Drone CH-4 dan NC-212 dalam Rantai Komando Intelijen
Dua platform ini menunjukkan sinergi antara UAV jarak jauh dan pesawat intelijen konvensional. Drone CH-4 unggul dalam daya tahan dan cakupan sensor, sementara NC-212 menyediakan kemampuan analisis manusia di udara serta komunikasi dengan unsur darat. Dalam simulasi, integrasi data dari Drone CH-4 untuk Pengintaian awal dan NC-212 untuk verifikasi menjadi contoh efektif penggunaan aset TNI AU dalam siklus Target Acquisition. Keunggulan masing-masing platform saling melengkapi: CH-4 menyapu area luas dengan sensor multi-spektral, sedangkan NC-212 bertindak sebagai pusat komando udara yang mampu memverifikasi target secara presisi sebelum menyalurkan data ke artileri.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik: keberhasilan dukungan tembakan tidak hanya bergantung pada kecepatan deteksi, tetapi juga pada keandalan verifikasi dan keamanan saluran komunikasi. Penggunaan LOROP pada NC-212 mengurangi risiko false positive yang mungkin terjadi pada sensor thermal drone. Dengan latihan semacam ini, TNI AU meningkatkan kesiapan operasi gabungan antara intelijen udara dan artileri dalam medan tempur modern. Skema ini juga menunjukkan pentingnya rantai komando yang terintegrasi antara UAV, pesawat intelijen, dan unsur darat — sebuah doktrin yang krusial dalam pertempuran kontemporer.