Latihan terintegrasi Penerbad TNI AD dengan artileri Kostrad di Baturaja bukan sekadar manuver biasa, melainkan simulasi presisi untuk menyempurnakan prosedur Dukungan Udara Dekat (Close Air Support) yang kompleks. Inti latihan adalah melatih sinkronisasi mematikan antara helikopter serang dan baterai howitzer melalui peran krusial Joint Terminal Attack Controller (JTAC). Proses ini dimulai dari fase armed reconnaissance hingga eksekusi serangan beruntun, menuntut koordinasi dan Koordinasi Tembakan yang sempurna untuk menghindari insiden friendly fire dan memaksimalkan efek kejutan serta kehancuran pada posisi musuh yang disimulasikan.
Prosedur JTAC dan Fase Deconfliction: Mengosongkan Ruang Tembak
Operasi dimulai dengan helikopter AH-64 Apache dan Mi-35 Hind melakukan armed reconnaissance atau pengintaian bersenjata. Tahapan ini krusial untuk mengidentifikasi dan marking target. Data sasaran yang diperoleh kemudian dikirimkan ke JTAC yang berposisi sebagai Forward Observer di darat. JTAC bertindak sebagai penghubung dan pengendali tunggal. Prosedur kunci yang segera dijalankan adalah deconfliction of fires atau pengosongan ruang tembak. Berikut adalah alur koordinasi standar yang dilatih:
- JTAC menerima dan mengonfirmasi koordinat grid target dari awak helikopter.
- Koordinat tersebut diteruskan secara simultan ke Battery Fire Direction Center (FDC) unsur artileri dan kembali ke pilot helikopter untuk verifikasi.
- Ditetapkan kill box atau zona sasaran serta time on target yang disepakati untuk mencegah tabrakan jalur tembakan.
- Komunikasi berlangsung melalui radio tactical air request net dengan protokol 9-line yang ketat.
Skema Serangan Beruntun: Suppressing Fire dan Run-In Attack
Dengan ruang tembak yang sudah didekonflik, serangan terintegrasi dimulai. Fase pertama adalah suppressing fire oleh artileri. Baterai howitzer melaksanakan fire mission menggunakan amunisi High-Explosive (HE). Tujuan taktisnya adalah:
- Mengacaukan dan mengurung (fix) personel serta posisi musuh.
- Meredam kemampuan tempur dan pengamatan musuh.
- Menciptakan window waktu dan kondisi psikologis yang tepat bagi helikopter untuk melakukan run-in attack.
- AH-64 Apache - Pop-Up Attack: Helikopter terbang sangat rendah (nap-of-the-earth) memanfaatkan kontur medan sebagai penutup. Mendekati sasaran, Apache melakukan manuver pop-up dengan naik cepat untuk memperoleh visi dan lock target, lalu melepaskan rudal AGM-114 Hellfire atau tembakan kanon 30mm Chain Gun dari jarak aman, sebelum segera turun kembali ke ketinggian rendah untuk menghindari tembakan balasan.
- Mi-35 Hind - Gun Run Attack: Mengadopsi pendekatan yang lebih langsung. Mi-35 melakukan gun run dari jarak lebih dekat, membuka dengan peluncur roket S-8 untuk area suppression, dilanjutkan dengan tembakan titik menggunakan kanon twin-barrel 23mm GSh-23L yang dipasang di turret bawah.
Latihan ini menguji dan mempertajam standar operasi prosedur (SOP) Penerbad dalam lingkungan pertempuran gabungan (joint battle space). Keberhasilan operasi semacam ini tidak hanya ditentukan oleh keakuratan tembakan, tetapi oleh disiplin komunikasi, pemahaman bersama terhadap doktrin, dan kepercayaan antar-unsur. Satu jeda atau salah baca koordinat dapat berakibat fatal. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa superioritas udara di atas medan dekat (close combat area) saat ini dicapai melalui integrasi data real-time dan prosedur baku yang memadukan kecepatan helikopter dengan daya hantam artileri tidak langsung, dengan JTAC sebagai otak pengendali di lapangan.