Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
BEDAH TAKTIK

KRI Bima Suci Kembali Menggelar Latihan Taktik Layar Tali-Temali Modern

Latihan taktik layar tali-temali modern di KRI Bima Suci mengintegrasikan keterampilan tradisional dengan navigasi digital, menekankan pembagian peran dan sinkronisasi dalam prosedur 'ready about'. Skenario darurat mematikan navigasi digital menguji kemampuan manual dan pengambilan keputusan cepat untuk menghindari tabrakan. Pelajaran taktisnya: teknologi canggih tidak menggantikan keterampilan dasar, koordinasi dan komunikasi efektif menjadi kunci ketangguhan kru.

KRI Bima Suci Kembali Menggelar Latihan Taktik Layar Tali-Temali Modern

Di perairan Selat Sunda yang dinamis, KRI Bima Suci—kapal latih kebanggaan TNI AL—kembali menggelar latihan taktik layar tali-temali modern. Sesi ini bukan sekadar nostalgia bahari, melainkan laboratorium bergerak yang mengintegrasikan keterampilan pelayaran tradisional dengan navigasi digital. Setiap kadet AL dituntut menguasai prosedur baku dalam mengendalikan 26 layar yang terhubung melalui sistem tali sintetis bertegangan rendah, sebuah teknologi yang memadukan kekuatan serat modern dengan prinsip mekanika klasik. Latihan ini dirancang untuk membangun refleks komando dan pembagian peran yang solid dalam tekanan tinggi.

Tahap Persiapan: Pembagian Tim dan Prosedur Standar 'Ready About'

Latihan dimulai dengan pembagian tiga kelompok fungsional yang memiliki tugas spesifik:

  • Kelompok puncak tiang bertanggung jawab mengatur layar atas, termasuk mengendalikan tali-temali di ketinggian dengan sistem katrol bertegangan rendah untuk meminimalkan gaya tarik.
  • Kelompok geladak mengelola tali-temali bawah dan memastikan setiap tali sintetis tidak kendur atau terlilit saat manuver.
  • Kelompok kemudi berkoordinasi dengan navigator digital untuk membaca pola angin dan memberikan aba-aba perubahan arah.

Setiap kelompok dilatih menghadapi perubahan arah angin secara mendadak melalui prosedur standar 'ready about' dan 'tacking'. Tahap ini membutuhkan sinkronisasi vokal dan fisik: komandan kelompok meneriakkan perintah, lalu seluruh kru bergerak serempak memindahkan tali-temali sesuai skema. Latihan ini mengajarkan bahwa dalam taktik layar, kecepatan eksekusi sama pentingnya dengan kekuatan fisik. Koordinasi yang presisi antara suara dan gerakan menjadi fondasi dari keselamatan pelayaran.

Simulasi Darurat: Navigasi Digital Offline dan Olah Gerak Menghindar

Tahap kedua memasuki skenario kritis: sistem navigasi digital sengaja dimatikan. Taruna harus beralih ke metode manual murni—mengandalkan sextant dan perhitungan posisi berdasarkan bintang, matahari, serta garis pantai. Ini menguji kemampuan mereka membaca peta kertas, menghitung deklinasi, dan menentukan jalur aman tanpa bantuan GPS. Setelah itu, latihan berlanjut ke olah gerak menghindari kapal niaga di alur pelayaran padat. Kru harus cepat menilai kecepatan dan jarak kapal lain, lalu memutuskan manuver 'tacking' atau 'wearing' untuk menghindari tabrakan. Latihan ini menyimulasikan situasi nyata di mana komunikasi elektronik mungkin gagal dan keputusan harus diambil berdasarkan insting serta disiplin komando.

Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari latihan KRI Bima Suci ini adalah bahwa teknologi canggih bukanlah pengganti keterampilan dasar. Dalam medan operasi yang tidak pasti, kemampuan mengoperasikan tali-temali secara manual, membaca alam, dan bergerak sebagai satu kesatuan unit justru menjadi pembeda antara kru yang tangguh dan yang rapuh. Setiap kadet yang menyelesaikan sesi ini tidak hanya memahami teori, tetapi juga merasakan langsung betapa pentingnya pembagian peran dan komunikasi efektif dalam menghadapi tekanan tinggi di laut lepas.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: TNI AL
Lokasi: Selat Sunda