Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
KOMUNITAS

Komunitas Veteran Selenggarakan Latihan Bela Negara Teknik Gerilya Urban

Komunitas Veteran Pejuang Republik (VPR) menggelar latihan bela negara Eagle Eye di Universitas Indonesia, membekali warga dengan teknik gerilya urban. Latihan sipil ini mencakup pemetaan perimeter, pembuatan safe room, dan formasi bounding overwatch dengan komunikasi offline. Pelajaran taktisnya: kesiapsiagaan komunitas sangat bergantung pada prosedur yang dilatih berulang dan adaptasi terhadap material sekitar.

Komunitas Veteran Selenggarakan Latihan Bela Negara Teknik Gerilya Urban

Pada 2 Oktober 2026, Komunitas Veteran Pejuang Republik (VPR) menggelar latihan bela negara bertajuk Eagle Eye di area kampus Universitas Indonesia, Depok. Latihan sipil ini dirancang khusus untuk membekali warga dengan teknik gerilya urban — serangkaian prosedur bertahan dan bergerak di lingkungan permukiman padat yang rawan konflik atau bencana. Instruktur veteran memandu peserta langkah demi langkah, dari mengidentifikasi titik lemah bangunan hingga melakukan evakuasi di bawah tekanan. Kegiatan ini merupakan bagian dari program ketahanan komunitas yang didukung Kementerian Pertahanan, dan menjadi ajang bagi komunitas untuk menguji kesiapsiagaan secara langsung.

Tahap I: Pemetaan Perimeter dan Pembuatan Safe Room

Langkah pertama dalam gerilya urban adalah mengenali kelemahan lingkungan sekitar. Instruktur mengajarkan teknik identifikasi tiga perimeter kritis: pintu, jendela, dan atap — titik rawan yang bisa dimanfaatkan musuh atau menjadi jalur evakuasi darurat. Setelah itu, peserta dilatih membangun barikade dari material sekitar, seperti meja, lemari, atau karung pasir, untuk memperkuat area perlindungan. Berikut urutan prosedur yang diberikan:

  • Identifikasi titik lemah: periksa semua akses masuk dan ventilasi; tandai sudut mati yang sulit dipantau dari dalam.
  • Pembuatan barikade portabel: gunakan furnitur berat dan benda padat sebagai penghalang sementara; jangan gunakan material yang mudah terbakar.
  • Penentuan safe room: pilih ruang interior tanpa jendela atau dengan dinding beton; simpan cadangan air, logistik, dan perlengkapan darurat di dalamnya.

Prosedur ini mengajarkan peserta bahwa pertahanan tingkat komunitas dimulai dari pemetaan celah lingkungan. Dengan membangun safe room yang kokoh, satu regu sipil dapat memperlambat infiltrasi musuh hingga bantuan tiba.

Tahap II: Pergerakan dengan Formasi Bounding Overwatch dan Komunikasi Offline

Setelah basis aman terbentuk, peserta belajar teknik perpindahan antarpenggal. Formasi bounding overwatch diterapkan saat bergerak dari satu blok ke blok lain. Prinsipnya: sebagian anggota menjadi tim pengawas (overwatch) yang melindungi pergerakan tim lain (bounding), bergantian secara bergelombang. Gerakan ini memerlukan komunikasi konstan tanpa bergantung pada sinyal seluler. Instruktur memandu peserta menggunakan handy talky (HT) dan aplikasi peta offline yang telah diunduh sebelumnya. Simulasi penyelamatan korban dari reruntuhan bangunan menjadi puncak latihan sipil — peserta harus menerapkan seluruh prosedur: koordinasi, evakuasi medis, dan pengamanan lokasi. Metode komunikasi offline ini menjadi kunci keberhasilan, karena sinyal sering terputus di tengah bencana atau konflik urban.

Dari sesi latihan sipil ini, satu pelajaran taktis yang patut dicatat: dalam bela negara skala komunitas, kecepatan reaksi sangat bergantung pada persiapan prosedur yang sudah dilatih berulang. Kemampuan membaca lingkungan, memanfaatkan material seadanya, dan berkomunikasi dalam kondisi tanpa sinyal dapat menentukan selamat tidaknya satu regu.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Komunitas Veteran Pejuang Republik (VPR), Universitas Indonesia, Kemenhan
Lokasi: Depok