Simulasi pertahanan pantai dalam rangkaian SGS 2026 di Nunukan, Kalimantan Utara, menjadi ajang uji coba implementasi doktrin Anti-Access/Area Denial (A2/AD) TNI terhadap skenario serangan amfibi. Konsep yang diterapkan adalah layered defense atau pertahanan berlapis, yang dirancang untuk memperlambat, mengacaukan, dan menghancurkan momentum pendaratan musuh. Setiap lapisan memiliki peran spesifik: deteksi jarak jauh, penangkalan dengan rudal dan artileri, serta pertahanan darat di titik-titik kritis. Simulasi ini menekankan koordinasi antarunsur dalam arsitektur network-centric warfare.
Lapisan Pertahanan: Dari Radar Hingga Rudal Pantai
Lapisan terluar A2AD dalam simulasi ini mengandalkan sistem pengawasan maritim dan udara. Radar pantai dan pesawat UAV (Unmanned Aerial Vehicle) bertugas mendeteksi ancaman dari jarak jauh, memberikan data target secara real-time ke Command Post. Setelah data diterima, proses pengambilan keputusan engagement dilakukan. Langkah selanjutnya adalah prosedur firing sequence oleh baterai rudal coastal defense (CDS) dan artileri pantai. Tahapan ini meliputi:
- Penerimaan data target dari radar dan UAV.
- Pelacakan (tracking) pergerakan kapal musuh.
- Penetapan parameter tembakan dan koreksi lintasan.
- Peluncuran rudal atau tembakan artileri untuk menghancurkan atau menghalau kapal sebelum mencapai jarak efektif pendaratan.
Lapisan kedua ini berfungsi sebagai stand-off weapon yang memaksa musuh beroperasi di luar jangkauan aman, sekaligus membuyarkan formasi pendaratan.
Asymmetric Warfare di Medan Sulit: Pertahanan Darat
Setelah lapisan laut dan udara, lapisan ketiga adalah pertahanan di darat. Pasukan infantri dan kendaraan tempur diposisikan di titik-titik kunci (choke points) dan daerah yang diperkirakan menjadi Landing Zone (LZ). Dalam simulasi, pasukan darat menyiapkan posisi bertahan dengan membuat sangar (bunker), menempatkan ranjau antitank, dan menyiapkan senjata antitank portabel (MANPATS). Doktrin yang diterapkan menggabungkan asymmetric warfare dengan sistem senjata konvensional. Medan geografis Nunukan yang sulit—rawa, hutan, dan pantai berlumpur—dimanfaatkan sebagai force multiplier untuk memperlambat pergerakan musuh dan memaksa mereka masuk ke zona tembak yang sudah diperhitungkan. Koordinasi antara unsur maritim, udara, dan darat menjadi kunci dalam arsitektur network-centric warfare, di mana setiap lapisan saling mendukung dan memberikan informasi yang akurat untuk pengambilan keputusan taktis.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah pentingnya integrasi antara asymmetric dan konvensional dalam doktrin A2AD. Medan bukanlah hambatan, melainkan aset yang dapat dimanfaatkan untuk membalikkan keunggulan teknologi musuh. Simulasi di Nunukan membuktikan bahwa pertahanan pantai yang efektif tidak hanya bergantung pada rudal dan radar, tetapi juga pada kemampuan pasukan darat untuk bertahan dan melakukan manuver di medan sulit. Setiap elemen harus bekerja dalam satu jaringan informasi yang terpadu, sehingga keputusan dapat diambil cepat dan tepat sesuai dengan dinamika pertempuran.