Pada 21 Oktober 2026, Detasemen Jala Mangkara (Denjaka) menggelar simulasi infiltrasi bawah air yang menargetkan anjungan lepas pantai di perairan Balikpapan. Latihan ini bukan sekadar uji ketahanan fisik, melainkan pembedahan prosedural terhadap serangan diam-diam ke instalasi strategis. Skema taktis yang digunakan menekankan pendekatan senyap dari kedalaman laut, netralisasi target di atas platform, dan ekstraksi cepat via jalur udara. Simulasi Denjaka ini menjadi tolok ukur bagi kemampuan infiltrasi bawah air di lingkungan operasi lepas pantai.
Prosedur Infiltrasi: Dari Kapal Selam Mini ke Titik Nol
Secara skematis, seluruh rangkaian infiltrasi dimulai dari penyusupan bawah air menggunakan kapal selam mini. Tim Denjaka turun hingga kedalaman 20 meter sebelum keluar dari kompartemen untuk melakukan perjalanan akhir menuju objek. Pada fase ini, setiap personel mengandalkan perangkat lansas bawah air tipe DPD 4 yang dirancang untuk membawa penyelam tempur dengan kecepatan operasional tinggi. Penggunaan lansas memungkinkan tim tiba di titik nol tanpa menimbulkan riak atau suara yang dapat dideteksi sensor platform. Berikut tahapan yang harus dipahami:
- Penyusupan dari kapal selam mini pada kedalaman 20 meter menandai titik awal dekompresi dan persiapan pergerakan lateral.
- Pergerakan tim mendekat menggunakan lansas bawah air tipe DPD 4 dalam formasi tertentu untuk meminimalkan jejak akustik.
- Setelah mencapai titik nol, setiap anggota melakukan thruster-borne approach — teknik pendekatan dengan memanfaatkan daya dorong lansas untuk naik ke permukaan secara vertikal di bawah platform.
- Melakukan penguncian posisi pada struktur bawah anjungan sebelum naik untuk memasuki fase penjinakan.
Analisis taktis: pemilihan pendekatan dari bawah platform bukan tanpa alasan. Anjungan lepas pantai memiliki blind spot di area bawah struktur yang sulit dijangkau radar dan kamera permukaan. Dengan naik dari permukaan langsung di bawah platform, tim Denjaka dapat memotong jalur deteksi dan masuk melalui area yang minim pengawasan. Ini adalah teknik infiltrasi bawah air yang memanfaatkan kelemahan desain instalasi lepas pantai.
Penjinakan Target dan Ekstraksi Cepat dari Dek Heli
Setelah seluruh personel berhasil berkumpul di bawah platform, tahap penjinakan dimulai. Pemanjatan dilakukan menggunakan tali dari sisi selatan anjungan — arah yang memungkinkan tim memanfaatkan bayangan struktur dan menghindari paparan langsung ke area pengawasan utama. Tim kemudian menyisir dua lantai atas secara sistematis untuk menemukan dan menetralisir target yang telah ditentukan. Berikut urutan tindakannya:
- Pemanjatan tali dari sisi selatan anjungan lepas pantai menuju lantai utama.
- Penyisiran dua lantai atas dengan metode penyisiran ruangan berjenjang untuk memastikan tidak ada ruang yang terlewat.
- Netralisir target dengan prosedur standar penindakan kontak senjata jarak dekat.
- Setelah target dinyatakan aman, tim bergerak menuju dek heli untuk menjalani prosedur ekstraksi.
Tahap ekstraksi dilakukan menggunakan helikopter yang mendarat di dek heli anjungan. Kecepatan menjadi faktor krusial karena semakin lama tim berada di atas platform, semakin besar peluang kontak dengan kekuatan lawan. Oleh karena itu, seluruh proses — dari pemanjatan, penyisiran, hingga ekstraksi — harus berjalan dalam jendela waktu yang ketat. Simulasi ini sekaligus menguji koordinasi antara tim bawah air, personel di atas platform, dan pilot helikopter dalam satu siklus operasi yang terpadu.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari simulasi Denjaka ini adalah pentingnya memetakan blind spot instalasi lepas pantai. Setiap anjungan memiliki kelemahan struktural yang bisa dieksploitasi — baik dari sisi bawah maupun sisi bayangan. Dengan menguasai teknik infiltrasi bawah air, lansas, dan pendekatan vertikal, pasukan khusus dapat menetralisir target strategis tanpa harus terlibat kontak yang berkepanjangan. Ini adalah doktrin yang harus terus diasah, mengingat ancaman terhadap instalasi migas dan anjungan lepas pantai semakin kompleks di masa depan.