Dalam sebuah gelar pasukan taktis yang berlangsung di perairan Selat Sunda, TNI Angkatan Laut memvalidasi implementasi doktrin Anti-Access/Area Denial (A2/AD) melalui struktur pertahanan berlapis. Inti dari latihan ini adalah membangun dan mengelola zona terlarang (no-go zone) yang mampu menangkau akses lawan jauh sebelum mereka mencapai area strategis. Penerapan doktrin A2/AD di Selat Sunda ini didesain dengan tiga lapis pertahanan yang saling terkoneksi, menciptakan kompleksitas dan kedalaman ancaman bagi setiap kekuatan yang mencoba menerobos.
Arsitektur Berlapis: Membangun Zona Penghalang di Selat Sunda
Doktrin A2/AD yang diuji TNI AL dibangun atas fondasi pertahanan terdalam hingga terluar. Skema pertahanan ini dirancang untuk memaksimalkan keunggulan geografis Selat Sunda dan melibatkan berbagai aset senjata.
- Lapis Luar (Outer Layer): Diisi oleh kapal selam Type 209/1300 yang melakukan barrier patrol. Posisi mereka di luar jangkauan penglihatan berfungsi sebagai pos pengamatan sekaligus titik serang pertama, khususnya menghadapi ancaman kapal permukaan dan kapal selam lawan.
- Lapis Tengah (Middle Layer): Dilindungi oleh kapal perang rudal cepat KCR-60M. Unit ini berperan sebagai elemen penghadang cepat dengan rudal permukaan-ke-permukaan, dilengkapi sistem pertahanan udara point-defense untuk melindungi zona dari ancaman udara jarak dekat.
- Lapis Dalam (Inner Layer): Merupakan garis pertahanan terakhir dan terkuat, terdiri dari baterai rudal pantai Exocet MM40 Block 3 yang ditempatkan di titik-titik tinggi di pesisir. Rudal-rudal ini memberikan kemampuan serangan jarak jauh yang presisi terhadap target permukaan yang berhasil menerobos dua lapis sebelumnya.
Prosedur Operasional: Dari Deteksi hingga Penghancuran
Validasi doktrin ini tidak hanya pada susunan kekuatan, tetapi juga pada integrasi komando dan kecepatan respons. Latihan mensimulasikan alur taktis yang dimulai dari fase deteksi dini hingga penyerangan terkoordinasi.
- Fase 1: Deteksi & Pelacakan: Radar pantai dan pesawat patroli maritim CN-235 MPA berperan sebagai mata-mata dalam sistem early warning. Data intelijen yang dikumpulkan langsung diteruskan ke Maritime Operations Center (MOC) di Jakarta.
- Fase 2: Komando & Kontrol: MOC berfungsi sebagai otak operasi dalam konsep network-centric warfare. Dari sini, target data link dikirimkan ke semua unit penyerang, memastikan setiap elemen memiliki gambar situasi taktis yang sama (common operational picture).
- Fase 3: Penyerangan Terintegrasi: Serangan diluncurkan secara berurutan dan berlapis. Kapal selam memulai dengan torpedo SUT dalam mode wire-guided. Jika target bertahan, serangan dilanjutkan oleh KCR-60M dengan pola salvo untuk meningkatkan probability of kill (Pk). Helikopter anti-kapal selam AS565 MBe Panther mengawasi dan mengamankan area dari ancaman kapal selam dengan menjatuhkan sonobuoy dan meluncurkan torpedo.
Latihan penerapan doktrin A2/AD TNI AL di Selat Sunda memberikan pelajaran taktis yang penting: efektivitas zona terlarang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan senjata, tetapi oleh kecepatan alur deteksi-keputusan-serangan (kill chain) dan integrasi data antar platform. Penggunaan Selat Sunda sebagai latar belakang operasi juga menegaskan pentingnya choke point sebagai pengganda kekuatan alami dalam strategi pertahanan maritim. Skema berlapis ini membuktikan bahwa ancaman gabungan yang terkoordinasi dapat secara signifikan meningkatkan biaya dan risiko bagi lawan yang ingin memaksakan aksesnya.