Satuan Tugas TNI AL telah memulai deployment strategis ke Rusia dalam kerangka Latma Orruda 2026. Inti misi selama 42 hari ini adalah membuktikan interoperabilitas taktis dalam skenario perang multi-domain intensitas tinggi, dengan penekanan khusus pada integrasi antara platform permukaan — KRI I Gusti Ngurah Rai-332 — dan elemen pasukan khusus Kopaska. Sebanyak 145 personel yang terpilih akan menjalankan serangkaian prosedur tempur standar namun kompleks di perairan Vladivostok, bekerja sama dengan Angkatan Laut Rusia. Tahapannya dimulai dari perencanaan gabungan, lalu meningkat secara bertahap ke latihan tempur terpadu yang realistis.
Arsitektur Kekuatan dan Penugasan Taktis
Dalam Latma Orruda, setiap aset dirancang untuk memiliki peran yang spesifik dan saling mendukung dalam satu kesatuan operasi gabungan. Struktur utamanya adalah sebagai berikut:
- KRI I Gusti Ngurah Rai-332 (Kelas Bung Tomo): Bertindak sebagai mothership dan floating command post. Tugas taktis utamanya meliputi memimpin perjalanan lintas samudera, menguji ketahanan logistik, dan berperan sebagai escort vessel serta assault platform dalam skenario latihan untuk memberikan dukungan tembakan dan sensor.
- Kontingen Kopaska: Unit ini akan mendemonstrasikan doktrin operasi mereka di tiga domain utama melalui prosedur tempur spesifik, yang dirancang untuk menguji kemampuan infiltrasi, penyerangan cepat, dan penyelamatan dalam lingkungan maritim yang dinamis.
Tahapan Eksekusi dan Prosedur Tempur Kopaska
Untuk memastikan efektivitas dan keselamatan, Latma Orruda akan dieksekusi melalui fase-fase terstruktur yang kompleksitasnya meningkat. Fase 1: Combined Planning & Communication Drill menjadi fondasi, di mana perwira TNI AL dan Rusia menyelaraskan rencana operasi melalui table-top exercise, termasuk menetapkan prosedur komunikasi, Rules of Engagement (ROE), dan skema Command and Control (C2). Setelah perencanaan matang, Kopaska akan melaksanakan tiga prosedur inti dalam skenario multi-domain:
- VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure): Teknik penyitaan kapal bermusuh di laut lepas. Tim berlatih melakukan pendekatan cepat menggunakan perahu karet (rigid-hull inflatable boat) atau metode fast-roping langsung dari helikopter ke dek target.
- Infiltrasi Laut: Teknik penyusupan diam-diam ke sasaran pantai. Metode ini melibatkan pergerakan menggunakan perahu karet dengan mesin senyap atau closed-circuit diving (menyelam tanpa gelembung) untuk menghindari deteksi radar dan akustik.
- Hostage Rescue di Lingkungan Maritim: Simulasi penyelamatan sandera di atas kapal atau platform lepas pantai. Latihan ini mengintegrasikan tim penyerbu utama, penembak runduk (sniper) sebagai pengawas dan penutup tembak, serta tim medis khusus untuk combat lifesaving.
Latihan ini bukan sekadar demonstrasi kemampuan individual, melainkan sebuah validasi taktis terhadap bagaimana KRI dan Kopaska dapat beroperasi sebagai satu kesatuan tempur yang kohesif di bawah skenario komando gabungan dengan mitra asing. Integrasi antara dukungan sensor dari korvet dan mobilitas serta kecepatan serangan pasukan khusus akan diuji dalam lingkungan operasi yang tidak familiar, meningkatkan combat readiness dan adaptabilitas taktis. Keberhasilan dalam setiap fase latihan akan memberikan data berharga untuk penyempurnaan doktrin operasi gabungan TNI AL di masa depan.