TNI Angkatan Laut (AL) kembali menguji coba taktik penenggelaman kapal dengan sistem torpedo berat berpemandu laser di perairan Selat Sunda. Latihan ini bukan sekadar menembak target statis, melainkan prosedur bertingkat yang menguji koordinasi deteksi sonar, panduan laser, peluncuran torpedo, hingga manuver escape kapal selam pasca-serangan. Seluruh skema dibagi menjadi tiga fase utama: deteksi dan penguncian, peluncuran dan penuntunan, serta manuver meloloskan diri. Berikut pembedahan taktik ini secara detail.
Fase I: Deteksi Sonar Hingga Penguncian Laser
Rangkaian taktik penenggelaman dimulai dari pengintaian bawah air menggunakan sonar kapal selam Nanggala-402. Pada tahap awal, sonar berhasil mendeteksi target kapal permukaan pada jarak 12 nautical mile. Deteksi jarak jauh ini memberikan keunggulan taktik berupa waktu reaksi yang lebih panjang dan ruang gerak leluasa untuk menyiapkan serangan. Setelah kontak terkunci, tim penembak melakukan konfirmasi dan menentukan titik bidik, yakni pada sambungan lunas kapal. Panduan laser kemudian diaktifkan pada titik sambungan lunas tersebut. Di sinilah peran teknologi pemandu laser sangat krusial; torpedo akan mengikuti pantulan sinyal laser menuju titik yang telah ditentukan, sehingga akurasi serangan menjadi sangat tinggi.
Berikut tahapan yang dilakukan pada fase ini:
- Pengintaian sonar kapal selam Nanggala-402 mendeteksi target pada jarak 12 nautical mile.
- Konfirmasi target dan identifikasi titik sambungan lunas kapal sebagai sasaran prioritas.
- Pengaktifan panduan laser pada titik bidik untuk menuntun torpedo secara presisi.
- Peluncuran torpedo berat DM2A4 dalam mode quiet approach dengan kecepatan 30 knot.
Mode quiet approach adalah taktik yang dipilih untuk meminimalkan kebisingan propulsi torpedo, sehingga sulit dideteksi oleh sistem countermeasure kapal lawan. Dengan kecepatan 30 knot, torpedo menyusuri jalur yang telah ditentukan tanpa membangkitkan tanda akustik yang mencolok.
Fase II: Homing Mode, Ledakan, dan Manuver Escape Kapal Selam
Pada detik-detik akhir, ketika torpedo telah berada dalam jarak dekat dari target, sistem homing aktif dan mengunci sasaran secara mandiri menggunakan panduan laser yang telah dipancarkan. Torpedo kemudian meledak tepat pada titik sambungan lunas, menciptakan kerusakan struktural yang parah. Simulasi kerusakan menunjukkan kapal target tenggelam dalam waktu delapan menit setelah ledakan.
Latihan ini juga menguji prosedur escape kapal selam setelah meluncurkan torpedo. Sebab, posisi kapal selam yang sudah terdeteksi akan menjadi sasaran empuk; oleh karena itu, kapal selam harus segera meninggalkan area. Prosedur yang dijalankan meliputi:
- Pelaksanaan emergency blow untuk naik ke kedalaman aman secara cepat.
- Manuver zig-zag untuk menghindari deteksi dan memecah pola gerakan.
Manuver zig-zag dipilih karena membuat lintasan kapal selam sulit diprediksi oleh sonar lawan, sehingga meningkatkan peluang lolos dari serangan balik. Latihan ini membuktikan bahwa taktik penenggelaman dengan torpedo berpemandu laser tidak hanya mengandalkan akurasi serangan, tetapi juga kemampuan bertahan kapal selam setelah menembak.
Analisis taktis: Uji coba ini mengintegrasikan teknologi laser dengan torpedo berat untuk mencapai penenggelaman presisi. Keunggulan utama terletak pada deteksi jarak jauh yang memberi waktu reaksi panjang, serta penggunaan quiet approach yang meminimalkan risiko deteksi. Sementara itu, prosedur escape zig-zag memastikan kapal selam tetap aman setelah melaksanakan misi. Pelajaran berharga bagi penggemar militer: koordinasi antara sonar, panduan laser, dan manuver taktis adalah kunci keberhasilan operasi penenggelaman kapal di era modern.