Simulasi Pertempuran Kota skala penuh kembali digelar di Pusdiklatpassus Batujajar pada 9 September 2026. Latihan bertajuk Pertempuran Jarak Dekat (CQB) ini dirancang untuk menguji kemampuan prajurit TNI dalam menghadapi musuh yang bercokol di bangunan bertingkat dan jaringan bawah tanah. Alih-alih sekadar latihan tembak bergerak, simulasi ini menyajikan skema taktis lengkap, mulai dari pengintaian hingga evaluasi akhir — sebuah pendekatan yang mencerminkan doktrin operasi tempur kota modern.
Lingkungan latihan yang digunakan bukan sekadar lapangan kosong. Panitia menyiapkan replika bangunan tiga lantai yang dihubungkan dengan jaringan terowongan bawah tanah, meniru kondisi urban yang kompleks. Di sinilah elemen-elemen seperti sudut mati, pintu, tangga, dan lorong sempit menjadi medan uji nyata. Bagi pasukan khusus, menguasai area semacam ini tidak cukup hanya dengan kecepatan; diperlukan ketelitian dalam setiap langkah dan keputusan taktis yang terukur.
Tahap Pertama: Pengintaian dan Pemetaan dengan Drone Mikro
Tahap pertama simulasi dimulai dengan pengintaian yang dilakukan oleh tim kecil. Mereka membawa drone mikro untuk memetakan posisi musuh di dalam bangunan tanpa harus memasuki area berbahaya terlebih dahulu. Data yang diperoleh dari udara kemudian dikombinasikan dengan panduan dari komandan tim untuk menentukan arah penyerbuan. Langkah ini sangat krusial karena di pertempuran jarak dekat, informasi posisi lawan dapat mengurangi korban dan mempercepat jalannya operasi.
Setelah data pengintaian diterima, regu penyerang dibagi menjadi dua berdasarkan sektor lantai. Tim pertama bertugas membersihkan lantai atas, sementara tim kedua bertanggung jawab pada lantai bawah. Pembagian ini memastikan tidak ada ruangan yang terlewat dan menjaga momentum serangan tetap berjalan. Setiap tim harus berkomunikasi secara terus-menerus agar pergerakan di lantai yang berbeda tidak saling memotong.
Teknik Slicing the Pie dan Pengalihan Perhatian
Dalam proses pembersihan setiap ruangan, prajurit menerapkan teknik slicing the pie. Teknik ini dilakukan dengan memeriksa ruangan secara bertahap dari sudut, bukan dengan memasuki ruangan secara penuh. Tujuannya sederhana: meminimalkan paparan tubuh terhadap sudut mati dan memberi waktu bagi mata untuk mengenali ancaman sebelum langkah kaki melangkah masuk. Di praktiknya, gerakan dilakukan perlahan, presisi, dan dengan koordinasi antar personel.
- Setiap anggota menempati posisi sisi pintu sebelum memeriksa ruangan.
- Pergerakan menyingkap area dilakukan secara bertahap, dari sudut terdekat ke sudut terjauh.
- Prajurit di belakang memberikan dukungan tembak dan menjaga lorong.
Dengan cara ini, ancaman yang tiba-tiba muncul dapat segera direspons tanpa membuat pasukan terjepit di jalan sempit. Di saat yang bersamaan, tim pendukung menempatkan asap di pintu masuk utama sebagai pengalihan. Asap ini bertujuan membingungkan musuh yang menunggu di arah depan, sehingga perhatian mereka terpecah. Sementara itu, tim pembersih ruangan dapat melancarkan penetrasi dari sisi yang tidak diduga. Kombinasi antara gerakan senyap, pengalihan visual, dan kecepatan eksekusi menjadi kunci untuk menguasai bangunan tanpa harus terlibat tembak-menembak yang berkepanjangan.
Pada akhir simulasi, evaluasi difokuskan pada dua hal utama: penggunaan pelindung balistik dan komunikasi antar tim. Hasilnya menunjukkan bahwa koordinasi antara tim pengintai dan regu penyerang masih perlu ditingkatkan. Data dari drone mikro belum sepenuhnya dimanfaatkan oleh regu penyerang saat melakukan pembersihan lantai, sehingga terjadi jeda dalam penyampaian informasi. Hal ini wajar dalam latihan, dan justru menjadi temuan berharga untuk memperbaiki prosedur operasi standar (SOP) di Pusdiklatpassus.
Pelajaran yang bisa dipetik dari simulasi pertempuran kota ini adalah bahwa kemenangan di pertempuran jarak dekat tidak pernah ditentukan oleh faktor keberanian semata. Alur intelijen yang cepat, penguasaan teknik membuka ruangan, dan kemampuan membagi perhatian musuh adalah paket taktis yang harus menyatu. Tanpa koordinasi yang baik antara mata di udara dan kaki di lapangan, keunggulan teknis seperti pelindung balistik dan drone mikro akan menjadi sia-sia.