Dalam latihan amfibi berskala besar, Tim Denjaka (Detasemen Jala Mangkara) melaksanakan simulasi prosedur VBSS (Visit, Board, Search, and Seizure) — sebuah operasi penyerbuan kapal musuh yang menuntut ketepatan, kecepatan, dan siluman. Skema taktis yang diterapkan mencerminkan doktrin VBSS modern, di mana kejutan dan koordinasi elemen pendukung menjadi kunci utama. Setiap fase dirancang dengan prosedur ketat, mulai dari pendekatan hingga pengamanan penuh. Berikut adalah bedah taktis prosedur VBSS yang diterapkan Denjaka dalam latihan amfibi tersebut.
Fase Pendekatan dan Boarding: Closed Approach dan Dual Ascent
Fase pertama adalah approach and insertion pada malam hari. Tim bergerak menggunakan kapal cepat khusus dan sekoci karet Combat Rubber Raiding Craft (CRRC). Prosedur utama yang diterapkan adalah closed approach, di mana mesin dimatikan pada jarak tertentu dari hull kapal target, lalu tim mendayung untuk mengurangi signature akustik. Teknik ini meminimalkan deteksi dini oleh awak kapal musuh — sebuah prinsip siluman yang vital dalam operasi VBSS.
Tahap boarding dilakukan dengan dua metode simultan:
- Mechanical ascent: Tim assault utama menggunakan grappling hook dan caving ladder untuk naik ke dek secara vertikal.
- Tactical ascent: Tim pendukung memanjat menggunakan tali statis untuk mencapai titik masuk alternatif.
Kedua metode direncanakan mencapai dek pada waktu yang hampir bersamaan (time-on-target), menciptakan efek kejutan dan membingungkan musuh. Setelah di dek, tim langsung menerapkan limited penetration procedure: mengamankan bridge (pusat komando), engine room (ruang mesin), dan titik-titik yang menghambat pergerakan awak kapal potensial musuh. Prioritas ini memastikan kontrol atas sistem kendali kapal dicapai secepat mungkin.
Fase Search dan Seizure: Systematic Room Clearing dan Koordinasi Pendukung
Setelah kontrol awal tercapai, fase search and seizure dimulai. Tim membagi area kapal menjadi beberapa sektor dan melakukan systematic room clearing — dimulai dari area vital ke area yang kurang kritis. Prosedur pencarian mengikuti aturan two-man clearing (dua orang per ruangan) dengan satu orang bertugas covering (pengaman). Hal ini menjaga efektivitas tempur dan meminimalkan risiko tembakan ramah.
Setelah barang bukti berhasil disita atau personel target ditahan, tim mengirim sinyal 'objective secured' dan menunggu unsur pendukung mengambil alih kapal. Dalam latihan ini, koordinasi dengan elemen pendukung seperti helikopter untuk sniper overwatch dan kapal induk sebagai command post diuji secara real-time. Dukungan udara memberikan perspektif atas situasi dek dan jalur pelarian musuh, sementara kapal induk menjadi pusat kendali taktis seluruh operasi.
Pelajaran taktis yang dapat dipetik: keberhasilan operasi VBSS sangat bergantung pada kemampuan tim untuk mencapai time-on-target dengan siluman dan kecepatan. Prosedur Denjaka dalam latihan amfibi ini menunjukkan bahwa penguasaan teknik VBSS tidak hanya soal keterampilan boarding, tetapi juga integrasi antara denjaka, unsur laut, dan udara. Kombinasi closed approach, dual ascent, serta systematic room clearing membuktikan bahwa setiap langkah dirancang untuk meminimalkan risiko dan memaksimalkan efek kejutan. Inilah mengapa latihan amfibi semacam ini menjadi krusial dalam membangun kesiapan tempur satuan elite TNI AL.