Simulasi operasi amfibi TNI AL di Selat Madura ini dirancang untuk menguji prosedur pendaratan pasukan dari laut ke darat dalam skenario pertempuran modern. Latihan gabungan lintas matra ini melibatkan KRI Bung Tomo, KRI Makassar, unsur marinir, dan pesawat intai CN-235 MPA. Tahap pertama dimulai dengan intai udara menggunakan CN-235 MPA untuk memetakan posisi musuh di Pulau Madura. Data intai kemudian digunakan untuk menentukan titik pendaratan (beachhead) di Pantai Camplong. Setiap fase dievaluasi oleh tim pengawas dari Komando Armada II untuk memastikan efektivitas taktis.
Formasi Piramida Terbalik: Pendaratan Gelombang Pertama
Setelah beachhead ditetapkan, pasukan pertama (marinir) mendarat dengan formasi piramida terbalik. Formasi ini memungkinkan konsentrasi pasukan secara bertahap untuk mengamankan pantai. Tahapan pendaratan gelombang pertama meliputi:
- Pendaratan 8 unit LCU (Landing Craft Utility) yang membawa pasukan marinir dan peralatan ringan.
- Dukungan 2 unit LPD (Landing Platform Dock) sebagai basis logistik dan komando taktis di tengah laut.
- Koordinasi dengan unit artileri di kapal pendukung untuk memberikan tembakan perlindungan saat pendaratan.
Setiap langkah diuji dalam waktu nyata untuk meminimalkan celah keamanan. Komunikasi taktis antara KRI Makassar sebagai kapal komando dan unit darat menjadi kunci kesuksesan fase ini.
Mobile Fire Support dan Infiltrasi ke Kota
Gelombang kedua dimulai dengan pengiriman tank amfibi BTR-4 yang berfungsi sebagai mobile fire support. Tank-tank ini memberikan daya gedor tinggi untuk membersihkan perlawanan musuh di area pantai. Setelah itu, pasukan infantri melakukan infiltrasi ke wilayah kota dengan memanfaatkan perlindungan tank. Simulasi ini juga menguji kemampuan komunikasi taktis antara KRI Makassar dan unit darat, termasuk koordinasi tembakan artileri dan pergerakan pasukan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa waktu pendaratan gelombang pertama dapat dipercepat menjadi 25 menit dengan koordinasi yang lebih baik antara LCU dan unit pendukung artileri. Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya sinkronisasi antar matra — antara intai udara, pendaratan laut, dan dukungan darat. Keberhasilan operasi amfibi tidak hanya bergantung pada kecepatan, tetapi juga pada ketepatan komunikasi dan fleksibilitas adaptasi terhadap kondisi medan.