Latihan maritim multilateral terbesar di dunia, Rim of the Pacific (RIMPAC) 2026, telah memasuki fase operasional dengan serangkaian prosedur standar yang krusial bagi pembentukan kesamaan operasional. Di Ford Island Conference Center (FICC), Hawaii, Vice Admiral Jeff Jablon selaku Combined Commander Task Force (CCTF) memimpin 'Opening Brief' yang menjadi dasar bagi seluruh manuver kompleks peserta. Sesuai doktrin latihan multinasional, briefing pembukaan ini menetapkan tiga elemen inti: skenario latihan yang akan dijalani, Rules of Engagement (ROE) untuk mencegah insiden, dan struktur komando gabungan yang akan mengoordinasi semua kekuatan. Proses ini memastikan setiap kontingen, termasuk Satuan Tugas (Satgas) TNI AL pimpinan Letkol Laut (P) Eko Triyatomo, mulai dari titik pemahaman yang sama.
Fase Integrasi: Membangun Common Operating Picture (COP) dan Komunikasi Terpadu
Setelah pembukaan resmi, kontingen Indonesia langsung masuk ke dalam tahap integrasi awal yang merupakan pondasi bagi seluruh operasi gabungan RIMPAC. Di bawah komando Dansatgas, struktur Satgas TNI AL dikonsolidasikan, mencakup personel inti dan unsur pendukung (shore staff) seperti yang dipimpin Kapten Laut (P) Suhari Rumalean, serta elemen dari Korps Marinir. Fokus utama fase ini adalah membangun Common Operating Picture (COP). Proses teknisnya melibatkan sinkronisasi beberapa sistem kritis:
- Sistem Komunikasi (Comms): Menyelaraskan protokol, prosedur panggilan (call signs), dan alokasi frekuensi radio untuk mencegah interferensi dan memastikan konektivitas yang lancar.
- Sistem Identifikasi Kawan-Lawan (IFF): Mengintegrasikan kode dan prosedur IFF untuk membedakan secara akurat antara unit sekutu dan potensi ancaman di udara maupun permukaan laut, sebuah langkah vital untuk mencegah tembak kawan (friendly fire).
- Protokol Operasi Gabungan: Menyeragamkan pemahaman mengenai doktrin dan taktik yang akan digunakan selama latihan.
Struktur dan Tahapan Operasional: Dari Harbor Phase Hingga Simulasi Tempur Realistis
Keikutsertaan TNI AL dalam RIMPAC 2026 mengikuti pola pendekatan bertahap (phased approach) yang terstruktur, dirancang untuk meningkatkan kompleksitas latihan secara gradual. Rangkaian ini dibagi menjadi dua fase operasional utama:
- Harbor Phase: Fase ini berlangsung di darat dan menjadi landasan perencanaan. Kegiatannya mencakup koordinasi intensif antar staf, table-top exercise, dan serangkaian briefing mendalam untuk mengulas setiap detail skenario. Di sini, peran shore staff sangat dominan dalam memastikan semua dokumen perintah operasi (op-order) dan dukungan logistik telah siap sebelum melaut.
- At-Sea Phase: Ini adalah puncak dari latihan bersama RIMPAC, di mana semua teori dan rencana diuji dalam lingkungan laut yang dinamis. Fase ini menampilkan simulasi operasi tempur nyata yang meliputi:
- Anti-Submarine Warfare (ASW): Koordinasi antara kapal permukaan, pesawat patroli maritim, dan helikopter untuk mendeteksi, melacak, dan menetralisir ancaman kapal selam.
- Air Defence Exercise (ADEX): Pelaksanaan pertahanan udara wilayah gabungan, melibatkan pengendalian lalu lintas udara, identifikasi target, dan simulasi pertahanan terhadap serangan udara.
- Amphibious Operations: Proyeksi kekuatan dari laut ke darat yang melibatkan kapal pendarat, kendaraan amphibi, dan pasukan marinir dalam serangan terkoordinasi.
- Maritime Interdiction Operations (MIO): Prosedur pemeriksaan, penangkapan, dan pengambilalihan kapal di laut lepas, melatih kemampuan penegakan hukum dan operasi khusus di lingkungan maritim.
Nilai strategis partisipasi Indonesia dalam RIMPAC 2026 melampaui sekadar latihan keterampilan teknis. Ini merupakan instrument utama diplomasi maritim yang menunjukkan komitmen TNI AL sebagai mitra yang capable dan reliable dalam menjaga stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Dari perspektif taktis, latihan ini memberikan laboratorium operasional nyata untuk memvalidasi doktrin, taktik, teknik, dan prosedur (TTPs) TNI AL dalam skenario multinasional yang kompleks. Pelajaran terbesar yang dapat dipetik adalah pentingnya investasi berkelanjutan pada sistem komunikasi dan komando-kendali yang kompatibel dengan standar internasional, karena itu adalah tulang punggung dari setiap operasi gabungan yang sukses. Kemampuan untuk berintegrasi secara mulus dengan angkatan laut negara lain secara langsung meningkatkan daya deterren dan kemampuan proyeksi kekuatan Indonesia di laut.