Latihan gabungan TNI yang digelar di alun-alun Kota Bandung pada 22 Juni 2026 secara khusus menguji doktrin City Square Combat, sebuah taktik khusus untuk menguasai dan mengamankan ruang publik terbuka di pusat kota yang rawan ancaman asimetris. Operasi ini dirancang dalam tiga fase taktis berurutan: pengintaian dan pembentukan zona pengamanan, operasi pembersihan dan penguasaan area, serta konsolidasi dan pengendalian massa. Setiap tahap dalam latihan ini menerapkan prosedur standar tempur perkotaan dengan penyesuaian pada karakteristik alun-alun sebagai kill zone terbuka yang dikelilingi bangunan tinggi.
Fase Alpha: Pengintaian Awal dan Pembentukan Perimeter Pertahanan
Fase pertama operasi, atau Initial Reconnaissance and Perimeter Establishment, dimulai dengan mobilisasi tim kecil dari Batalyon Infanteri 312 menggunakan kendaraan taktis untuk mengamankan titik masuk strategis menuju alun-alun. Prosedur taktis yang diterapkan meliputi:
- Pembentukan Zona Pengamanan: Membuat perimeter dengan radius 200 meter dari titik episentrum (pusat alun-alun) untuk mengisolasi area latihan dan mencegah gangguan dari luar.
- Penempatan Pos Pengamatan (OP): Menduduki gedung-gedung tinggi di sekeliling alun-alun untuk mendapatkan sudut pandang dominan. Tim pengintai menggunakan peralatan pengintai jarak jauh (long-range reconnaissance equipment) untuk memetakan ancaman potensial di area terbuka dan titik-titik persembunyian.
- Pengamanan Axis of Advance: Mengamankan jalur pendekatan utama dan alternatif yang akan digunakan pasukan utama dalam fase selanjutnya, sekaligus menyiapkan posisi tembak pendukung (support-by-fire position).
Tahap ini merupakan fondasi kritis dalam City Square Combat, dimana penguasaan visual dan pembatasan akses lebih diutamakan sebelum melakukan manuver ofensif, guna mencegah pasukan terjebak di area terbuka tanpa informasi intelijen yang memadai.
Fase Bravo: Operasi Pembersihan dan Penguasaan Area Terbuka
Fase inti dari latihan ini adalah Clearing and Holding Operations, yang melibatkan sebuah peleton infanteri bergerak memasuki alun-alun. Mereka menerapkan formasi tempur khusus yang dirancang untuk lingkungan terbuka dengan ancaman dari segala penjuru, yakni formasi 'Stack'. Rincian penerapannya adalah sebagai berikut:
- Struktur Formasi Stack: Satu regu bergerak maju sebagai eleman serbu dengan penembak jitu (marksman) di titik terdepan sebagai point man, diikuti oleh tim breaching dan serbu utama. Regu kedua mengambil posisi pada sudut 45 derajat dari axis gerak regu pertama, bertugas memberikan cover fire dan mengamankan sektor samping (flank security).
- Teknik Bounding Overwatch: Pergerakan dilakukan secara bergantian (bounding). Satu tim bergerak cepat untuk menduduki posisi baru di balik penutup (seperti monumen atau struktur rendah), sementara tim lain tetap di posisi dan memberikan perlindungan tembak (overwatch), lalu bergantian. Teknik ini meminimalkan exposure pasukan di area terbuka.
- Isolasi Area: Selama proses pembersihan, akses-akses jalan kecil (side alleys) yang terhubung ke alun-alun segera dikunci oleh tim tambahan. Tujuan taktisnya adalah mencegah infiltrasi atau serangan balik musuh dari arah yang tidak terduga, sekaligus menyempitkan ruang gerak ancaman yang mungkin masih tersisa.
Operasi pembersihan difokuskan pada area monumen dan bangunan pinggir alun-alun yang berpotensi menjadi posisi penyergap atau tempat penyimpanan bahan peledak improvisasi (IED).
Setelah alun-alun dinyatakan bersih dari ancaman langsung, operasi beralih ke fase final: Consolidation and Crowd Control Simulation. Pasukan yang telah menguasai area segera membentuk formasi pertahanan statis berupa Diamond Formation di tengah alun-alun. Dalam formasi ini, komandan peleton berada di pusat formasi, dikelilingi oleh empat tim penjaga yang masing-masing mengamankan satu arah mata angin (utara, selatan, timur, barat). Simulasi pengamanan warga sipil kemudian dilakukan dengan prosedur yang ketat: tim medis hanya diperbolehkan masuk setelah area dinyatakan steril oleh komandan lapangan. Evakuasi warga (yang diperankan sukarelawan) dilakukan melalui security corridor, yaitu dua baris pasukan yang membentuk lorong aman menuju zona evakuasi yang telah ditentukan. Seluruh proses komunikasi di lapangan menggunakan kode operasi khusus melalui radio untuk menghindari kebingungan dan menjaga keamanan informasi, terutama saat berhubungan dengan skenario kerumunan.
Latihan TNI di Bandung ini memberikan pelajaran taktis berharga: penguasaan City Square tidak hanya tentang merebut ruang, tetapi tentang mengelola risiko di area fatal funnel. Kombinasi formasi Stack untuk gerak maju dan Diamond untuk konsolidasi menunjukkan adaptasi taktis dari doktrin tempur konvensional ke lingkungan perkotaan yang kompleks. Kunci suksesnya terletak pada disiplin dalam komunikasi, kecepatan transisi antar fase, dan integrasi yang mulus antara unsur pengintaian, tempur, dan pendukung—sebuah prototipe operasi terpadu untuk menghadapi ancaman di jantung kota.