Latihan Air Combat antara pilot F-16 TNI AU dan United States Air Force (USAF) dalam skema SGS 2026 mengadopsi kurikulum dasar Fighter Combat Training yang terstruktur dan progresif. Kegiatan diawali dengan sesi briefing yang membahas Rules of Engagement (ROE), parameter keselamatan, dan skenario Basic Fighter Maneuvers (BFM). Pilot dibagi menjadi pasangan atau flight of four dengan peran Blue Air (friendly) dan Red Air (adversary). Pendekatan ini memastikan setiap peserta memahami batasan dan tujuan taktis sebelum memasuki area pertempuran udara.
Fondasi Manuver: Pertempuran Satu Lawan Satu (1v1)
Pada tahap pertama, latihan difokuskan pada skenario satu lawan satu (1v1) yang mencakup BFM ofensif dan defensif. Dalam skema ofensif, pesawat penyerang (attacker) harus mempertahankan posisi di six o'clock (belakang) pesawat target dengan memanfaatkan manuver seperti high-G turns, lag pursuit, atau lead pursuit untuk mendapatkan tone lock dengan radar atau seeker missile simulasi. Sementara itu, pesawat bertahan (defender) berusaha keluar dari parameter tembak dengan manuver defensif seperti break turn, defensive split, atau menjatuhkan flare/chaff untuk mengelabui sensor. Latihan 1v1 ini menjadi landasan bagi penguasaan BFM yang krusial dalam air combat.
Evolusi ke Pertempuran Multi-Pesawat: BVR hingga Dogfight
Tahap lanjutan melibatkan pertempuran udara multi-pesawat (2v2 atau 4v4) yang mensimulasikan Beyond Visual Range (BVR) engagement dan merge. Prosedur BVR dimulai dengan deteksi awal oleh radar pesawat AWACS atau sendiri, dilanjutkan dengan identifikasi, pemberian target, dan peluncuran missile simulasi dari jarak puluhan mil. Setelah memasuki jarak visual, pesawat melakukan merge dan pertempuran berubah menjadi dogfight dengan formasi tertentu seperti loose deuce atau fighting wing. Berikut rincian tahapan kunci:
- Deteksi & Identifikasi: Radar AWACS atau radar internal mendeteksi kontak udara, lalu mengklasifikasikan sebagai friendly atau adversary.
- Peluncuran BVR: Setelah kunci target terkunci, missile simulasi diluncurkan dari jarak taktis (>20 mil) untuk menguji respons lawan.
- Merge & Dogfight: Begitu jarak visual tercapai, formasi seperti loose deuce (dua pesawat dengan jarak longgar) atau fighting wing (satu sebagai penyerang utama, satu sebagai pelindung) digunakan untuk mengoptimalkan sudut serang.
Setiap sortie diakhiri dengan debriefing mendetail menggunakan data rekaman dari Tactical Air Combat Training System (TACTS) untuk menganalisis setiap keputusan taktis dan kinerja manuver. Data ini mencakup rekaman posisi, kecepatan, sudut belok, dan efektivitas penggunaan countermeasure, sehingga setiap pilot dapat mempelajari celah taktis yang perlu diperbaiki. Dari latihan udara ini, pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya adaptasi cepat antara fase BVR dan visual merge. Keberhasilan dalam air combat tidak hanya bergantung pada kemampuan manuver individu, tetapi juga koordinasi flight dan pemahaman mendalam terhadap parameter taktis lawan.