Korps Pasukan Khas TNI AU (Paskhas) kini mengoperasionalkan Airborne Forward Air Controller (AFAC) sebagai jantung dari doktrin baru Close Air Support (CAS) presisi. Evolusi taktis ini menggeser paradigma dari CAS konvensional ke model infiltrasi udara-terpusat, dimana tim AFAC berfungsi sebagai ‘pengendali serangan’ yang berada langsung di garis depan untuk mengarahkan pesawat tempur dengan akurasi maksimal dan minimal collateral damage.
Prosedur Infiltrasi dan Establishment of Forward Control Point
Operasi AFAC dimulai dengan fase infiltrasi nocturnal menggunakan pesawat angkut C-130 Hercules. Tim AFAC Paskhas — terdiri dari 2-3 personel termasuk satu JTAC (Joint Terminal Attack Controller) bersertifikasi — melakukan static-line parachute jump ke area operasi. Tahapan taktis setelah landing dijalankan dengan urutan berikut:
- Rally Point Reorganization: Personel berkumpul di titik rally untuk regrouping, pengecekan kondisi, dan validasi peralatan.
- Movement to Observation Post (OP): Bergerak cepat dan tersembunyi ke lokasi OP yang memiliki garis pandang jelas terhadap target area.
- Establishment of Hidden Position: Mendirikan posisi tersembunyi dan mempersiapkan sistem komunikasi serta penandaan target.
Di OP, tim membongkar dan mengkalibrasi peralatan kunci yang membentuk kemampuan CAS presisi:
- Laser Designator (misal model AN/PEQ-1) untuk ‘painting’ atau menandai target dengan laser spot.
- Radio Manpack UHF/VHF dengan kemampuan crypto untuk komunikasi secure dengan pesawat tempur.
- Rangefinder Binocular dengan GPS untuk penentuan koordinat target (grid MGRS) dan jarak secara real-time.
Execution of CAS via Laser Designation: Controlling and BDA Protocol
Proses pengendalian serangan udara dilakukan melalui komunikasi radio standar dalam format 9-line brief. Setelah pesawat tempur (seperti F-16 Fighting Falcon) masuk area operasi, kontak awal dilakukan pada frekuensi yang telah disepakati. 9-line brief mencakup elemen:
- Initial Point
- Heading
- Distance
- Target Elevation
- Target Description
- Target Location
- Type Mark
- Friendlies Location
- Egress Direction
Presisi ini dilengkapi dengan tahap Battle Damage Assessment (BDA) post-impact. Tim AFAC mengamati hasil serangan dan melaporkan ke pilot dan command post dengan terminologi standar (‘Target destroyed’, ‘Need re-attack’, atau ‘Target neutralized’). Jika target belum tereliminasi, prosedur controlling dapat diulang untuk mengarahkan serangan pesawat berikutnya. Setelah misi CAS selesai, tim melakukan exfiltration dari area menggunakan metode yang sesuai dengan situasi.
Integrasi AFAC dalam doktrin Paskhas merepresentasikan lompatan taktis dimana pasukan khusus tidak hanya sebagai penerima CAS, tetapi sebagai pengarah aktif yang menentukan akurasi dan efektivitas serangan udara. Pelajaran taktis yang dapat dipetik adalah bahwa keberhasilan CAS modern bergantung pada tiga elemen: infiltrasi tepat waktu tim AFAC, komunikasi secure antara ground controller dan pilot, serta penggunaan teknologi penandaan target real-time (laser/GPS) untuk meminimalkan waktu antara identifikasi dan engagement. Doktrin ini menempatkan Paskhas sebagai force multiplier yang mampu mengoptimalkan daya tempur udara TNI AU dalam skenario konflik kompleks.