Setelah menyelesaikan misi penerjunan pasukan di Lanud Halim, dua pesawat angkut berat A400M — masing-masing milik TNI AU dan Angkatan Udara Prancis — langsung memasuki fase Air Maneuver dalam Latma Pegase. Fase ini bukan sekadar atraksi udara, melainkan rangkaian latihan taktis yang menguji prosedur rendezvous dan rejoining pasca-dropship. Manuver diawali dengan climbing turn untuk meninggalkan drop zone dan mengambil posisi formasi Echelon Right dengan jarak satu wingspan. Pesawat A400M TNI AU bertindak sebagai lead, sementara A400M Prancis sebagai chase plane yang harus mempertahankan posisi presisi di sisi kanan.
Urutan Manuver: Dari Fly Pass hingga Break Turn
Setelah formasi Echelon Right tertata, kedua pesawat menuju axis runway untuk menjalankan fly pass pertama dalam konfigurasi low approach. Manuver Udara ini membutuhkan sinkronisasi kecepatan dan ketinggian yang sangat ketat. Berikut tahapan teknis yang ditampilkan:
- Break Turn: Lead aircraft melakukan sharp turn kiri dengan bank angle 45 derajat, sementara chase plane (A400M Prancis) menjaga heading lurus sebelum memulai turning pursuit. Manuver ini melatih responsif terhadap perubahan arah secara tiba-tiba, simulasi kondisi harus menghindari ancaman atau mengubah jalur pendaratan.
- Pitch Change: Lead melakukan mild pitch up untuk gaining altitude, diikuti chase plane dengan interval beberapa detik. Perubahan pitch ini menguji kemampuan menjaga jarak vertikal dan horizontal dalam Formasi Terbang yang rapat.
Kedua tahap ini memerlukan komunikasi lintas kokpit (cross-cockpit communication) meskipun antarnegara, serta spatial awareness yang prima. Setiap gerakan lead harus diantisipasi oleh chase plane tanpa perlu instruksi verbal berlebihan, hanya berdasarkan visual contact dan prosedur standar.
Analisis Taktis: Bukan Sekadar Latihan Formasi
Secara taktis, urutan manuver ini dirancang untuk mengasah prosedur rendezvous dan rejoining setelah misi dropship. Dalam operasi lintas udara gabungan, dua pesawat angkut seringkali harus berpisah saat menerjunkan pasukan di zona yang berbeda, lalu bergabung kembali untuk formasi pendaratan. Latihan Fly Pass dengan formasi Echelon Right dan teknik break turn mereplikasi skenario reunifikasi cepat. Manuver Udara seperti pitch change juga melatih kemampuan mempertahankan kontak visual saat kedua pesawat memiliki profil kecepatan berbeda. Pelajaran utama bagi penggemar militer: latihan semacam ini membuktikan bahwa interoperabilitas antarnegara tidak hanya soal hardware, tetapi juga soal prosedur dan kepercayaan antar kru udara. Setiap tahap — dari climbing turn hingga pitch change — adalah bagian dari bahasa taktis yang harus dipahami bersama, persis seperti dalam operasi tempur sesungguhnya.