Latihan gabungan TNI-Polri 'Bhayangkara-26' di Batujajar menjadi laboratorium nyata prosedur joint fires dalam kompleksitas konflik hybrid. Inti latihan terletak pada bagaimana satuan dari komando berbeda—TNI dan Polri—menjalankan prosedur penggabungan tembakan artileri, udara, dan senjata ringan secara aman dan efektif. Semua ini dilakukan di bawah satu komando terpadu untuk menyongsong ancaman tak konvensional yang memadukan kerusuhan massa dengan unsur bersenjata terorganisir, sebuah skenario yang semakin relevan dengan dinamika keamanan kontemporer.
Struktur Komando Terpadu dan Pendirian Gambaran Operasional Bersama (COP)
Joint Task Force (JTF) Command Post adalah otak sekaligus sistem saraf latihan gabungan ini. Post ini menghadirkan personel dari berbagai matra dan instansi (infanteri dan artileri TNI, Brimob, dan Intel Polri) dalam satu ruang komando fisik. Langkah pertama kritis adalah membangun Common Operational Picture (COP) menggunakan sistem C4I (Command, Control, Communications, Computers, and Intelligence) yang terintegrasi. Prosedur standar yang dijalankan adalah:
- Integrasi Jaringan Komunikasi: Menyamakan frekuensi radio, protokol data, dan hierarki panggilan antara TNI dan Polri.
- Fusi Data Intelijen: Input dari intel lapangan Polri dikombinasikan dengan pengintaian elektronik atau udara TNI untuk membentuk satu peta ancaman utuh.
- Penetapan Aturan Kontak (ROE) Gabungan: Merumuskan pedoman penembakan yang berlaku seragam untuk semua personel di lapangan, mempertimbangkan unsur sipil dalam skenario kerusuhan.
Bedah Skenario: Menerapkan Prosedur Joint Fires dalam Aksi Hybrid
Latihan ini menguji penerapan doktrin joint fires dalam dua lapis ancaman hybrid yang berbeda karakter. Tahap eksekusi terbagi menjadi dua skenario utama yang mensimulasikan eskalasi ancaman.
Skenario 1: Crowd Control dengan Ancaman Tersembunyi (Sniper)
Unsur Brimob memulai dengan manuver pengendalian massa standar, membentuk "Shield Wall" dan melakukan "Advancing in Echelon"—dorongan berlapis yang terkendali. Titik kritis terjadi saat ancaman sniper musiman muncul. Di sinilah integrasi komando diuji. Satuan Brimob di lapangan tidak serta-merta menembak atau mengejar, melainkan segera menginisiasi Joint Fires Request. Permintaan tembakan presisi ini dikirim via radio menggunakan format standar SALUTE:
- Size: Jumlah pelaku (1 orang).
- Activity: Melakukan pengamatan dan mengancam dengan senjata panjang.
- Location: Grid koordinat spesifik dari gedung lantai 3.
- Unit: Unsur Brimob Sektor Alpha (sebagai pemohon).
- Time: Waktu pengamatan.
- Equipment: Senapan dengan teropong bidik (simulasi).
Skenario 2: Pertahanan Objek Vital dengan Dukungan Udara Terpadu
Skenario meningkat menjadi pertahanan instalasi kunci dari serangan kelompok bersenjata terorganisir. Di sini, prosedur joint fires mencapai kompleksitas tertinggi dengan melibatkan Integrated Air-Ground Coordination. Seorang Joint Terminal Attack Controller (JTAC) dari TNI AD yang tertanam bersama pasukan Brimob di garis depan bertindak sebagai penghubung vital. Untuk mengarahkan serangan pesawat TNI AU (simulasi Close Air Support / CAS), JTAC menjalankan prosedur baku 9-Line Brief yang ditransmisikan ke pilot:
- Initial Point/Ingress Point: Titik awal pesawat memulai serangan.
- Heading: Arah terbang menuju sasaran.
- Distance: Jarak dari IP ke sasaran.
- Target Elevation: Ketinggian sasaran.
- Target Description: Deskripsi jelas (contoh: ". . . truk pikap berwarna hijau...").
- Target Location: Koordinat spesifik di peta.
- Mark Type: Jenis penanda di lapangan (asap, laser, dll.).
- Friendlies Location: Posisi pasukan sendiri (contoh: "...200 meter barat sasaran").
- Egress Direction: Arah pesawat meninggalkan area sasaran setelah serangan.
Latihan Bhayangkara-26 menunjukkan bahwa kemenangan dalam konflik hybrid tidak hanya ditentukan oleh keunggulan persenjataan, namun oleh kesamaan prosedur dan bahasa operasional. Poin taktis kunci yang dapat dipetik adalah absolutnya penggunaan protokol standar seperti SALUTE dan 9-Line Brief sebagai 'bahasa ibu' joint fires. Tanpanya, integrasi komando hanya jadi wacana. Latihan ini menegaskan bahwa kekuatan sejati dari sebuah operasi TNI-Polri terletak pada kemampuan mengubah kompleksitas multi-unsur menjadi presisi dan efektivitas tembakan yang terpadu, sebuah pelajaran berharga untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kabur batasnya.