Dalam rangkaian Latihan Gabungan Garuda Shield, simulasi urban warfare menjadi fokus utama untuk mengasah kemampuan prajurit dalam pertempuran di lingkungan perkotaan. Latihan ini menekankan tiga prinsip fundamental: speed (kecepatan), surprise (kejutan), dan violence of action (tindakan agresif). Setiap peserta dibagi menjadi tim assault (penyerang) dan defender (penjaga bangunan) yang masing-masing terdiri dari 4–6 orang. Mereka berlatih di fasilitas Military Operations on Urban Terrain (MOUT) kompleks Puslatpur, yang dirancang untuk menguji respons taktis dalam lingkungan sempit penuh sudut mati. Skema ini memaksa setiap prajurit menguasai taktik pertempuran kota secara instingtif melalui skenario yang semakin kompleks.
Tahap Approach and Entry: Menguasai Teknik Bounding dan Slicing the Pie
Latihan dimulai dengan pendekatan menuju bangunan target menggunakan teknik bounding dan cover-to-creep movement. Setiap anggota tim bergerak sinkron, saling memberikan perlindungan tembakan, hingga mencapai posisi aman di luar bangunan. Sebelum memasuki pintu atau jendela, prajurit menerapkan slicing the pie technique — membersihkan sudut mati secara bertahap dengan gerakan memutar — guna meminimalkan risiko terkena tembakan dari dead space. Setelah area luar bersih, point man menentukan jenis entri:
- Dynamic entry: masuk secara cepat dan agresif saat situasi mendesak, memanfaatkan elemen kejutan.
- Deliberate entry: masuk secara perlahan dan terukur bila intelijen menunjukkan ancaman minimal atau adanya sandera.
Anggota tim lainnya membentuk formasi stack di samping pintu, siap mengikuti dengan jarak dan urutan yang telah ditentukan. Teknik ini merupakan fondasi taktik pertempuran kota karena memastikan setiap prajurit memiliki sektor tembak dan area tanggung jawab yang jelas. Dengan penguasaan teknik bounding dan slicing the pie, risiko terkena tembakan dari sudut buta dapat diminimalkan secara signifikan.
Tahap Room Clearing dan Building Stronghold: Mengasah CQB di Lingkungan Kompleks
Setelah masuk ke dalam bangunan, tim bergerak dengan teknik buttonhook atau cross coverage untuk mengamankan ruangan. Pada teknik buttonhook, prajurit berbelok tajam setelah melewati ambang pintu, sedangkan cross coverage membuat dua anggota saling melindungi sektor kanan dan kiri. Komunikasi dilakukan dengan clear verbal command seperti "Clear left!" atau "Clear right!" serta hand signal untuk menjaga keheningan. Latihan juga mencakup room clearing di ruangan multi-lantai (clearing stairs) dan koridor panjang yang memerlukan koordinasi sektor tembak ekstra. Tahap terakhir adalah membangun building stronghold — mendirikan posisi pertahanan di titik-titik kunci seperti atap dan sudut jendela — untuk mengamankan bangunan setelah semua ruangan bersih. Seluruh aktivitas ini mengasah kemampuan CQB dan pengambilan keputusan split-second yang esensial dalam urban warfare.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik adalah pentingnya penguasaan room clearing yang sistematis dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan situasi di lapangan. Dalam pertempuran kota, setiap sudut bisa menjadi ancaman; hanya dengan latihan berulang seperti yang dilakukan dalam Garuda Shield, prajurit dapat menginternalisasi prosedur taktik pertempuran kota sehingga respons menjadi otomatis. Disiplin formasi, komunikasi non-verbal, dan pemahaman akan prinsip speed, surprise, violence of action menjadi kunci keberhasilan dalam operasi CQB. Latihan ini membuktikan bahwa penguasaan room clearing bukan sekadar teknik, melainkan seni bertahan hidup di medan pertempuran modern.