Sketsa Taktis
Memahami Strategi, Membangun Kekuatan Bangsa
SIMULASI

Latihan Simulasi Anti-Drone oleh Satuan Radar TNI AU di Makassar

Simulasi anti-drone TNI AU di Makassar menguji prosedur penangkalan dengan jammer portabel dan deteksi electro-optical. Hasil menunjukkan jammer berhasil 85% untuk satu drone dan 65% untuk dua drone simultan. Data ini akan menjadi acuan untuk memperkuat SOP pertahanan pangkalan udara terhadap ancaman drone musuh.

Latihan Simulasi Anti-Drone oleh Satuan Radar TNI AU di Makassar

Satuan Radar TNI AU di Makassar baru saja menyelesaikan simulasi penangkalan serangan drone musuh dengan menggabungkan sistem jammer portabel, deteksi electro-optical, dan opsi tembakan langsung. Simulasi ini dirancang untuk menguji prosedur pertahanan pangkalan udara terhadap ancaman drone kecil yang semakin marak digunakan dalam taktik asimetris. Artikel ini mengupas langkah demi langkah taktik yang diterapkan, mulai dari patroli radar hingga skenario terburuk, berdasarkan data latihan terbaru.

Tahapan Patroli Radar dan Identifikasi Ancaman

Simulasi dimulai dengan patroli radar oleh tim ground-based air defense (GBAD) yang menggunakan gabungan radar frekuensi tinggi dan sensor electro-optical. Tim berhasil mengidentifikasi target drone kecil pada ketinggian 200 meter pada jarak 3 km. Setelah terdeteksi, langkah selanjutnya adalah klasifikasi ancaman berdasarkan pola terbang dan signature radio. Drone yang terbang tidak beraturan dan memancarkan sinyal pada frekuensi 2,4 GHz serta 5,8 GHz langsung dikategorikan sebagai ancaman potensial. Prosedur ini penting untuk membedakan drone sipil dan militer.

Prosedur Penangkalan: Jammer hingga Opsi Terburuk

Setelah klasifikasi, operator jammer segera memasang antena panel dengan gain tinggi dan memancarkan sinyal jamming secara bergantian pada dua gelombang utama: 2,4 GHz dan 5,8 GHz. Langkah ini bertujuan memutus kendali radio antara drone dan operator musuh. Jika berhasil, drone akan masuk mode fail-safe dan turun ke titik aman yang telah ditetapkan. Namun, jika jamming gagal, tim penembak jitu yang dilengkapi senapan anti-drone (shotgun dengan amunisi khusus) bersiap menembak drone dari jarak dekat. Simulasi diulang dengan variasi kecepatan drone dan jumlah drone simultan untuk menguji keandalan sistem.

  • Tingkat keberhasilan jammer: 85% untuk satu drone, 65% untuk dua drone dalam waktu serentak.
  • Jenis amunisi penembak jitu: Shotgun dengan butiran logam khusus untuk merusak baling-baling drone.
  • Variasi skenario: Kecepatan drone diubah antara 50 km/jam hingga 120 km/jam, serta jumlah drone ditingkatkan hingga tiga unit.

Hasil simulasi ini akan menjadi data dasar untuk memperbarui prosedur operasi standar (SOP) pertahanan pangkalan udara TNI AU. Analisis taktis menunjukkan bahwa ancaman drone simultan masih menjadi titik lemah karena kemampuan jammer menurun drastis saat menghadapi multi-target. Oleh karena itu, integrasi sistem jammer yang lebih cerdas dan pelatihan tim penembak jitu menjadi prioritas. Pelajaran utama dari simulasi ini adalah perlunya pendekatan berlapis — deteksi dini, jamming, dan opsi fisik — untuk mengatasi serangan drone yang semakin kompleks. Bagi penggemar militer, skenario ini mengingatkan kita pada doktrin pertahanan udara berlapis yang diterapkan di NATO, di mana setiap lapisan memiliki peran spesifik untuk meniadakan ancaman udara.

ENTITAS TERDETEKSI
Organisasi: Satuan Radar TNI AU, TNI AU
Lokasi: Makassar