Latihan gabungan TNI Angkatan Darat pada 25 Agustus 2026 menguji prosedur pertahanan kota dengan skenario infiltrasi, asault, dan evakuasi yang terintegrasi. Melibatkan Batalyon Infanteri 123 dan Satuan Kopassus, latihan ini dirancang sebagai simulasi taktis untuk merebut kembali area perkotaan yang diduduki musuh. Penekanan utama diberikan pada sinkronisasi antara intelijen, manuver, dan dukungan tembakan — tiga pilar yang menentukan keberhasilan operasi di lingkungan urban yang kompleks. Berikut adalah uraian tahapan taktis yang diterapkan.
Tahap Infiltrasi dan Mark Sasaran: Fondasi Serangan Presisi
Pada tahap pertama, tim pengintai (recon team) dari Kopassus melakukan infiltrasi ke area kota yang dikuasai musuh. Mereka menggunakan teknik urban camouflage dan silent movement untuk menghindari deteksi. Setiap langkah pergerakan dilakukan dengan penguasaan medan yang matang — memanfaatkan bayangan, sudut buta, dan reruntuhan sebagai penutup. Setelah mencapai posisi strategis, tim memetakan titik-titik pertahanan musuh dan melakukan mark sasaran untuk artileri pendukung. Prosedur ini memastikan bahwa tembakan tidak langsung dapat diarahkan secara tepat, meminimalkan risiko tembakan ramah dan memaksimalkan efek kejut.
- Teknik urban camouflage: menyamarkan seragam dengan pola dan warna yang sesuai dengan lingkungan bata, beton, dan pecahan kaca.
- Silent movement: langkah kaki terkontrol, komunikasi isyarat tangan, dan penggunaan alat peredam suara.
- Mark sasaran menggunakan pancaran sinar laser atau penanda kimia yang tidak mudah terdeteksi musuh.
Setelah mark selesai, koordinasi dengan artileri dilakukan melalui radio taktis dengan sandi khusus. Latihan ini menguji ketepatan waktu antara pengintaian dan penembakan — jika terjadi keterlambatan, musuh bisa merubah posisi. Oleh karena itu, setiap anggota tim pengintai dilatih untuk bekerja dalam tekanan waktu tinggi.
Tahap Assault dan Evakuasi: Manuver di Ruang Terbatas
Memasuki tahap kedua, pasukan asault melancarkan serangan dengan formasi yang disesuaikan dengan kondisi medan. Di ruang terbuka seperti alun-alun atau persimpangan, mereka menggunakan formasi diamond — setiap prajurit mengawasi sektor 90 derajat, memungkinkan respons 360 derajat terhadap ancaman. Sementara di koridor sempit atau lorong gedung, mereka beralih ke formasi stack, di mana prajurit berbaris rapat di belakang pemimpin regu untuk meminimalkan profil tembakan. Setiap regu menyisir gedung lantai per lantai dengan prosedur 'slice the pie' — secara bertahap membuka sudut pandang di setiap tikungan untuk mengurangi exposure terhadap tembakan musuh.
- Formasi diamond: efektif untuk area terbuka, memungkinkan tembakan silang.
- Formasi stack: digunakan di lorong sempit; prajurit di depan membuka pintu, yang lain menutup sektor belakang.
- Prosedur slice the pie: langkah demi langkah memeriksa ruangan dengan memutar badan di ambang pintu.
Setelah area diamankan, tim evakuasi bergerak menggunakan kendaraan lapis baja Anoa V2. Kendaraan ini dirancang untuk melindungi personel dari tembakan senapan mesin dan pecahan granat, serta mampu membawa korban dan non-kombatan ke zona aman dengan kecepatan tinggi. Prosedur evakuasi dilakukan bersamaan dengan pengamanan perimeter oleh regu penutup. Taktik ini mengajarkan pentingnya manajemen sumber daya: kendaraan lapis baja tidak hanya digunakan untuk mengangkut pasukan tetapi juga sebagai alat evakuasi medis darurat.
Analisis taktis dari latihan ini menunjukkan bahwa pertahanan kota membutuhkan integrasi vertikal antara unsur intelijen, manuver, dan dukungan tembakan. Tanpa data intelijen yang akurat dari tahap infiltrasi, serangan bisa keliru sasaran. Tanpa formasi yang tepat, pasukan rentan terhadap tembakan dari berbagai sudut. Dan tanpa evakuasi yang cepat, korban bisa bertambah. Pelajaran utama bagi penggemar militer: setiap detil prosedur — dari mark sasaran hingga slice the pie — memiliki peran krusial dalam meminimalkan risiko dan memaksimalkan efektivitas operasi di lingkungan urban.