Latihan Elang Nusantara 2026 di Lanud Iswahjudi membuka skenario dengan skuadron tempur TNI AU yang menjalankan prosedur scramble secara penuh. Begitu perintah lepas landas diterima, pilot F-16 dan T-50i langsung menyalakan afterburner untuk mencapai ketinggian awal 10.000 kaki secepat mungkin. Fase ini bukan sekadar rutinitas — ia menjadi penentu inisiatif taktis sebelum dogfight sesungguhnya dimulai. Instruktur menekankan bahwa keunggulan ketinggian adalah aset strategis yang harus diperoleh di detik-detik pertama, karena inilah yang nantinya dikonversi menjadi energi kinetik saat bermanuver.
Fase BVR dan Teknik Notching untuk Memutus Lock Radar
Setelah berada di ketinggian operasional, latihan meningkat ke fase Beyond Visual Range (BVR). Pilot mengaktifkan radar pesawat untuk mendeteksi target dan melakukan penguncian sebelum meluncurkan AIM-9 Sidewinder. Namun, saat radar lawan sudah mengunci, instruktur mengajarkan teknik notching — sebuah manuver yang dilakukan dengan membelokkan pesawat secara tegak lurus terhadap gelombang radar lawan, sekaligus menurunkan kecepatan untuk menurunkan Doppler shift yang dideteksi radar. Prinsip yang ditekankan dalam latihan ini adalah:
- Posisi tegak lurus (90 derajat) terhadap sumber radar lawan untuk mengurangi deteksi kecepatan radial.
- Kombinasi penurunan ketinggian dan kecepatan agar pesawat tenggelam dalam clutter tanah.
- Kemudian melakukan crank atau pergantian arah secara tiba-tiba untuk keluar dari jendela deteksi.
Instruktur menegaskan bahwa notching bukanlah solusi permanen, melainkan teknik bertahan yang memberi waktu untuk memposisikan ulang. Prinsip energy maneuverability terus diingatkan: pesawat yang berada di ketinggian lebih tinggi diuntungkan karena dapat mengonversi energi potensial menjadi energi kinetik dalam sekejap. Setiap simulasi BVR diakhiri dengan transisi ke jarak dekat, tempat dogfight dimulai.
Basic Fighter Maneuvers dan Latihan 2 Lawan 1
Pada jarak pandang dekat, para pilot melatih basic fighter maneuvers (BFM) yang menjadi inti dogfight TNI AU. Tiga gerakan utama dipraktikkan secara berulang: lead turn untuk memotong jalur musuh, lag roll untuk menghindari overshoot saat kecepatan terlalu tinggi, dan split-S sebagai manuver defensif untuk membalik arah sambil mengorbankan ketinggian demi mempertahankan kesempatan menembak. Instruktur memberikan koreksi langsung setiap kali pilot kehilangan sudut aspect atau membiarkan lawan masuk ke posisi enam jam. Berikut parameter utama yang dipantau:
- Sudut offset dari hidung pesawat lawan harus selalu dijaga agar tidak melewati batas maksimum untuk peluncuran.
- Kecepatan sudut (angular velocity) dikendalikan melalui throttle dan pembebanan G secara halus.
- Pemanfaatan vertical plane untuk memaksa lawan kehilangan energi.
Setelah sesi satu lawan satu, skenario meningkat menjadi 2 lawan 1. Wingman melakukan take-up posisi taktis di 60 derajat offset dari pemimpin formasi, sehingga menciptakan sudut serang silang yang menyulitkan lawan untuk mengunci kedua pesawat sekaligus. Latihan ini mengajarkan koordinasi berpasangan — kapan wingman menarik perhatian, kapan lead menyerang dari posisi sun. Setiap selesai sortie, seluruh pilot menjalani debrief ketat dengan meninjau gun camera untuk mengevaluasi keputusan taktis secara frame per frame.
Pelajaran taktis yang bisa dipetik dari Latihan Elang Nusantara 2026 adalah pentingnya penguasaan energi dan kesadaran situasional di setiap fase pertempuran udara. Dari scramble hingga BVR dan BFM, setiap tahapan menuntut keputusan yang cepat dan presisi. Teknik notching membuktikan bahwa bertahan adalah seni, sementara BFM mengajarkan bahwa menyerang bukan sekadar menembak, melainkan memaksa lawan ke posisi tidak berdaya. Bagi penggemar militer, latihan ini menegaskan bahwa TNI AU terus mengasah kemampuan tempur jarak dekatnya dengan pendekatan sistematis — dan setiap manuver memiliki tujuan taktis yang dapat dipelajari dan disimulasikan kembali.